Gila! Boraks Dijual Bebas di Pasar Bogor

Bambang Budianto Menunjukka Hasil Sidak Disperindag
Bambang Budianto Menunjukka Hasil Sidak Disperindag
Bambang Budianto Menunjukkan Hasil Sidak Disperindag
POJOKSATU.id, BOGOR – Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kota Bogor melakukan inspeksi mendadak (sidak) terkait adanya pemakain bahan kimia berbahaya dalam produk makanan yang dijual di Pasar Lawang Seketeng, Jalan Pedati, Kota Bogor, Jumat (20/3/2015). Disperindag menyita sejumlah bahan pengawet serta tahu mentah yang disinyalir menggunakan bahan pengawet boraks.

Kepala Dinas Bambang Budianto mengatakan, sidak ini merupakan tugas pokok dan fungsi (tupoksi) Disperindag dalam melakukan pengawasan dan monitoring sesuai dengan UU No 8 Tahun 1999 Tentang Perlindungan Konsumen.

Bambang menjelaskan, sebelum melakukan sidak ia membentuk tim untuk menyamar sebagai pembeli dan mewawancarai penjual makanan berpengawet mayat tersebut. “Kita bentuk semacam intel. Pura-pura beli padahal untuk kita uji di laboratorium makanannya,” ujar Bambang.

Di Pasar Lawang Seketeng, Disperindag menemukan ayam tiren, tahu berformalin, kue-kue basah, telur ayam bekas yang gagal menetas hingga pedagang yang menjajakan bahan pengawet berbahaya seperti boraks, pijer dan bleng yang dijual bebas di pasar itu.
Temuan bahan pengawet langsung dibawa ke kantor Disperindag dan pedagang diberi surat peringata. Sementara makanan seperti tahu, ayam tiren dan telur langsung dihancurkan di lokasi sidak.
Bambang menjelaskan, untuk membedakan ayam tiren dengan ayam segar ialah, jika ayam tiren sedikit mengkilat dan tidak dikerubungi lalat. “Lalat aja tidak suka sama ayam mati kemarin,” tegas Bambang.
Untuk antisipasi, Disperindag memberi peringatan keras pada tujuh pedagang di kawasan Lawang Seketeng. Dua orang dipaksa menadatangani pernyataan tidak boleh menjual boraks dan lainnya serta lima orang sisanya diberi teguran lisan.
Bambang menjelaskan, jika penjualan makanan berbahaya ditemukan kembali, ia berjanji akan mempidanakan penjual karena dianggap membunuh pelan-pelan warga Bogor dengan menjual makanan-makanan tersebut.
“Kata orang Dinas Kesehatan, efek pengawet ini terasa 7 sampai 10 tahun kedepan. Biasa dengan timbul penyakit kanker. Pedagang sebenarnya sadar jika itu berbahaya. Tapi banyak diantara mereka mengaku melakukannya untuk mendapat keuntungan lebih. Tapi ini sama saja membunuh saya dan warg Bogor pelan-pelan,” tegasnya.
Bambang menjelaskan, pada Rabu atau Kamis pekan depan Disperindag bakal kembali melakukan sidak di tempat yang sama. “Jika masih kedapatan jualan gituan, saya tak segan mempidanakan mereka. Karena pedagang Bogor bukan nakal. Tapi cenderung mesti dipidanakan,” jelasnya.
Menurut Bambang, sanksi bagi mereka ialah hukuman penjara maksimal 5 tahun dengan denda maksimal Rp 5 miliar.(cr1)