Keterlaluan, Anak Penjarakan Ibunya Demi Kuasai Harta

Kentjana Sutjiawan
Kentjana Sutjiawan
Kentjana Sutjiawan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Mungkin ungkapan peribahasa “Air Susu dibalas Air Tuba”, pas untuk menerangkan kepiluan Kentjana Sutjiawan. Ibu 6¬†anak berusia 83 tahun ini harus berhadapan dengan hukum karena ulah anaknya yang ingin menguasai harta.

Anak kandungnya, Edhi Sudjono Muliadi (anak pertama) dan Suwito Muliadi (anak kelima), keduanya menggugat ibunya.

Dedy Heryadi, kuasa hukum Kentjana, mengaku kedua anaknya melaporkan ibunya ke Polres Jakarta Utara atas tuduhan penggelapan dan penipuan. Ibu tua itu pun terancam dipenjara. Namun, akhirnya pengadilan memutuskan membebaskan Kentjana kerena tidak terbukti bersalah.

“Saya sebenarnya malu. Saya sudah serahkan semuanya kepada Tuhan. Saya tidak bisa apa-apa. Punya anak kok seperti ini. Ini anak kandung saya,” ujar Kentjana sambil menangis di kediamannya di Kelurahan Tambora¬†Jakarta Barat, Kamis (19/03).


“Waktu pertama kali, saya sudah sampaikan jangan sampai ribut-ribut. Namun, saya malah mau dipenjara. Dia mau saya dipenjara baru puas,” tambahnya.

Menuerut Dedy, permasalahan ini bermula ketika Edhi meminta kepada ibunya agar tiga bidang tanah, pertama seluas 124 meter persegi di Jalan Kemurnian VI, Tamansari, Jakarta Barat; kedua seluas 3130 meter persegi, di Penjaringan; dan ketiga seluas 2000 meter persegi, di Penjaringan, semua sertifikatnya menjadi atas namanya.

Sekitar tahun 2000, Edhi kemudian meminta agar sertifikat tanah itu dijadikan jaminan kredit di bank. “Ibu Kentjana menolak. Karena tanah itu bukan hanya untuk kepentingan Edhi, namun juga anak-anaknya yang lain,” katanya.

“Atas putusan itu, Kakanwil BPN DKI Jakarta menerbitkan surat keputusan pembatalan sertifikat Hak Guna Bangunan di dua bidang tanah di penjaringan atas nama Edhi. Pengadilan Negeri Jakarta Utara juga menerbitkan penetapan eksekusi agar Edhi atau pihak lain yang berada di atas kedua bidang tanah itu menyerahkannya kepada Kentjana,” jelasnya.

Namun, Edhi tak kehabisan akal. Ia mengajukan gugatan ke Pengadilan Tata Usaha Negara (PTUN) Jakarta dan PN Jakarta Utara. “Anehnya, PTUN mengabulkan gugatan Edhi dengan membatalkan putusan Kakanwil BPN. Sementara, PN Jakarta Utara juga mengeluarkan putusan yang aneh dan menyatakan penetapan eksekusi pengosongan lahan tidak sah,” kata Dedy.

Kentjana sendiri sangat menyayangkan perilaku tidak terpuji kedua anaknya tersebut. Dari keenam orang anaknya, hanya Edhi dan Suwito yang mengenyam bangku perguruan tinggi. Kentjana dan almarhum suaminya tentu bangga kalau anak-anaknya bisa menjadi seorang dokter. Dan Edhi, sebagai anak pertama, bisa menggantikan posisi mendiang ayahnya untuk memberi perlindungan pada keluarganya. Namun harapan tinggal harapan. Semuanya pupus karena Edhi dan Suwito tidak seperti yang mereka kenal dulu.(bayu/ys/ril)