Hakim Pemutus Kasus Tanah Kentjana Dilaporkan ke KY

Kentjana Sutjiawan
Kentjana Sutjiawan
Kentjana Sutjiawan

POJOKSATU.id, JAKARTA – Kuasa Hukum Kentjana Sutjiawan, Dedy Heryadi mengaku telah melaporkan dua hakim yang memetuskan gugatan kedua anak Kentjana, Edhi Sudjono Muliadi dan Suwito Muliadi, ke Komisi Yudisial.

“Kami sudah melaporkan kedua majelis hakim PTUN Jakarta dan PN Jakarta Utara ke Komisi Yudisial dan Mahkamah Agung. Saat ini masih dalam proses,” katanya Kamis (19/03).

Kedua hakim tersebut mengabulkan gugatan Edhi dengan membatalkan putusan Kakanwil BPN. Sementara, PN Jakarta Utara juga mengeluarkan putusan yang aneh dan menyatakan penetapan eksekusi pengosongan lahan tidak sah.

Padahal sebelumnya, Kakanwil BPN DKI Jakarta sudah menerbitkan surat keputusan pembatalan sertifikat Hak Guna Bangunan di dua bidang tanah di penjaringan atas nama Edhi. Sementara Pengadilan Negeri Jakarta Utara juga menerbitkan penetapan eksekusi agar Edhi atau pihak lain yang berada di atas kedua bidang tanah itu menyerahkannya kepada Kentjana.


Penetapan tersebut terjadi atas pengajuan gugatan peralihan hak atas ketiga bidang tanah itu oleh Kentjana kepada pengadilan hingga Mahkamah Agung pun mengabulkannya.

Seperti diketahui, sengketa tanah keluarga ini bermula ketika Edhi meminta kepada ibunya agar tiga bidang tanah, pertama seluas 124 meter persegi di Jalan Kemurnian VI, Tamansari, Jakarta Barat; kedua seluas 3130 meter persegi, di Penjaringan; dan ketiga seluas 2000 meter persegi, di Penjaringan, semua sertifikatnya menjadi atas namanya.

Sekitar tahun 2000, Edhi kemudian meminta agar sertifikat tanah itu dijadikan jaminan kredit di bank. “Ibu Kentjana menolak. Karena tanah itu bukan hanya untuk kepentingan Edhi, namun juga anak-anaknya yang lain,” kata Dedy.

Inilah awalnya sehingga Edhi dan Suwito mengadukan ibunya ke pengadilan. (baca juga: Keterlaluan, Anak Penjarakan Ibunya Demi Kuasai Harta)

Sementara itu, anak ketiga Kentjana, Tjendana Muliadi, mengaku sedih melihat kondisi ibunya yang sudah tua, namun harus menghadapi masalah ini.

Tjendana menceritakan, setelah ayahnya meninggal, ibunya yang saat itu berusia sekitar 40 tahun berjuang membesarkan keenam anaknya.

Ketika itu sekitar tahun 1970-an, ada sejumlah toko dan rumah, namun statusnya masih sewa. Perlahan-lahan, usaha ibunya di bidang penjualan alat kematian seperti peti mati, kayu bakar, dan pernak-pernik lainnya berkembang.

“Akhirnya bisa beli tanah di Penjaringan. Kita orang (empat anak lainnya) tidak kuliah. Hanya Edhi sama Suwito yang kuliah. Edhi kuliah di kedokteran. Dia gak mau pegang toko. Dulu bangga kalau punya anak bisa jadi dokter. Anak pertama bisa jadi pengganti ayah,” paparnya.

Tapi, harapan tinggal harapan. Edhi dan Suwito malah ingin mengusai tanah milik ibunya. “Dulu akur. Jadi tidak masalah sertifikat pakai nama siapa saja. Tapi, sekarang jadi begini,” tukasnya.(bayu/ys/ril)