Hakim Jatuhkan Hukuman Mati pada Anak

yusman dan hilia pelaku pembunuhan berencana di nias
yusman dan hilia pelaku pembunuhan berencana di nias
yusman dan hilia pelaku pembunuhan berencana di nias
yusman dan hilia pelaku pembunuhan berencana di nias

POJOKSATU.id, NIAS – Hukuman mati pada seorang anak, dijatuhkan oleh  tiga hakim PN Gunung Sitoli, Nias kepada terpidana kasus pembunuhan yang pelakunya masih di bawah umur.

Komisi untuk Orang Hilang dan Tindakan Kekerasan (Kontras) melaporkan tiga hakim PN Gunung Sitoli, Nias, yakni Syilvia Yudhiastika, Sayed Fauzan, dan Edy Siong. Ketiga hakim diduga memvonis seorang anak bernama Yusman Telaumbanua dengan hukuman mati.

Sesuai kronologis Kontras, awalnya terjadi pembunuhan berencana yang dilakukan tiga orang majikan Yusman di Gunung Sitoli pada 2012. Saat itu Yusman hanya menyaksikan adanya pembunuhan tersebut. Sebab, dia bekerja sebagai pembantu dari para pembunuh. (Baca juga: Ini Kronologi Pembunuhan Sadis Dilakukan Anak di bawah Umur)

Kadiv Pembelaan Hak Sipil dan Politik Kontras Putri Kanesia menjelaskan, masalahnya ketiga hakim saat persidangan pada 2013 ternyata memvonis Yusman dengan hukuman mati. Padahal, sesuai sesuai surat baptis Yusman kelahiran 30 Desember 1996. Artinya, Yusman saat divonis baru berusia 16 tahun berjalan ke 17 tahun. “Hitungan dewasa itu 17 tahun,” paparnya.


Artinya, seorang anak justru diberikan hukuman mati. Padahal, aturannya sesuai Undang-undang nomor 11 tahun 2012 tentang sistem peradilan anak, maka seharusnya tidak boleh dihukum mati. Serta, hukuman maksimal untuk seorang anak hanya 10 tahun. “Inilah pelanggaran yang dilaporkan ke KY,” jelasnya.

Sebenarnya, persoalan usia ini pernah muncul dalam persidangan. Saat itu Hakim mempertanyakan umur Yusman. Saat itu terhukum mati itu mengaku berumur 16 tahun. “Tapi, dalam BAP disebut kelahiran 1993 atau 19 tahun,” ujarnya.

Dengan begitu, sebenarnya ada dua kesalahan. Yakni, pada tingkat penyelidikan dan penyidikan. Dimana penyidik Polres Nias melakukan kesalahan administrasi soal penulisan waktu kelahiran. “Hakim juga bersalah karena tidak melakukan pendalaman terhadap masalah tersebut.

Sementara Staf Pembelaan Hak Sipil dan Politik Kontras Arif Nur Fikri menjelaskan, latar belakang Yusman itu adalah anak yang tidak lulus sekolah dasar. Dia tidak bisa berbahasa Indonesia dengan lancar. “di Pelosok Nias banyak anak seperti dia, hanya bisa bahasa Nias,” jelasnya.

Namun, dalam persidangan ternyata tidak dihadirkan seorang penerjemah. Hal tersebut menguatkan adanya ketidakberesan dalam persidangan tersebut. “Sebab, apa yang diungkapkan Yusman tidak dimengerti hakim,” tuturnya.

Sementara Kepala Bagian Pengelolaan Laporan Masyarakat Komisi Yudisial Indra Syamsul menjelaskan, sejak Rabu (18/3) lalu, KY telah melakukan investigasi terhadap masalah tersebut. “Kami tidak lanjuti semuanya,” paparnya.

Langkah awal yang dilakukan, dengan meminta data dari Kontras terkait vonis mati pada Yusman yang diduga berusia dibawah 17 tahun saat vonis dilakukan. “Ditunggu saja, kamia akan perdalam semuanya,” ujarnya. (idr/zul)