Ini Surat Terbuka Ketua Komisi I DPR untuk Ahok

Ahok
Ahok
Ahok

POJOKSATU.id, JAKARTA – Wawancara yang dilakukan sebuah stasiun televisi dengan Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok yang ditayangkan secara live pada Selasa (17/3) lalu menuai kecaman dari berbagai pihak. Sebab dalam wawancara itu, Ahok berkali-kali melontarkan kata-kata kasar dan kotor yang sangat tidak patut disampaikan seorang pejabat negara sekelas Gubernur Jakarta.

Bahkan Komisioner Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) bidang pengawasan isi siaran Agatha Lily memberi peringatan kepada media televisi tersebut agar jangan lagi mengundang nara sumber yang bicara kasar dan kotor.

Kali ini Ketua Komisi I DPR RI Mahfuz Sidik yang juga politisi PKS mengirimkan surat terbuka mengecam Ahok atas kata-kata kasar nan kotor yang dipertontonkan Ahok dalam tayangan wawancara di Kompas TV itu. Berikut surat terbuka Mahfuz Sidik tersebut:

Surat Terbuka kepada Gubernur DKI Jakarta Basuki Tjahja Purnama


Pak Gubernur Yth.

Perkenalkan, saya adalah seorang warga Jakarta. Saya lahir dan besar di Jakarta, begitupun orang tua dan kakek-nenek saya. Selama hampir 50 tahun saya ikuti kiprah para gubernurnya, dan ikut peduli membangun daerah ini.

Sebagai warga saya punya harapan besar setiap Gubernur DKI Jakarta menjadi pemimpin yang sukses, dan menjadi kebanggaan serta panutan semua warganya. Namun saya sangat terusik ketika seringkali menyaksikan bapak di televisi tampil bicara dengan menggunakan bahasa yang sangat tidak santun dan bahkan beberapa kali mengeluarkan kata-kata kasar dan kotor.

Bapak sebagai gubernur menggunakan kosa kata yang sering saya dengar saat anak-anak sedang bertengkar dan saling mengumpat. Pada awalnya saya coba memahami mungkin Bapak sedang marah dan kesal. Namun perilaku ini sering berulang dan semakin hari kata-kata yang bapak gunakan semakin kasar dan kotor. Ibu saya yang sudah sepuh ikut menonton siaran itu tak henti beristighfar. Saya tidak tahu apa reaksi jutaan warga masyarakat yang ikut menonton, bukan hanya di Jakarta tapi di seluruh Indonesia.

Pak gubernur, puncak kegundahan dan kekecewaan saya muncul saat menyaksikan wawancara bapak pada salah satu stasiun TV. Meski di awal pembawa acara sudah mengingatkan Bapak bahwa acara tersebut disiarkan langsung, ternyata lagi-lagi kosa kata kasar dan kotor keluar dari mulut bapak, sang Gubernur DKI Jakarta.

Apakah bapak tidak menyadari bahwa sekian juta masyarakat Indonesia menyaksikan acara tersebut? Apakah bapak tidak ingat bahwa sosok gubernur adalah seorang yang dijadikan panutan oleh masyarakat Jakarta? Termasuk sekian banyak anak-anak dan remaja yang butuh pembelajaran dan keteladanan yang baik?

Bangsa kita saat ini, terutama generasi mudanya sedang mengalami krisis moral. Perilaku yang tidak lagi saling menghormati dan menyayangi sesama, perilaku saling memperolok dan menyakiti serta kebiasaan menggunakan kata-kata kasar dan kotor. Saya meyakini untuk memperbaiki kondisi ini kita harus memberikan contoh dan teladan baik, khususnya dari para pemimpinnya.

Apa jadinya jika anak-anak, remaja dan generasi muda kita melihat bahwa pemimpinnya sendiri berbicara dengan tutur kata yang tidak sopan dan bahkan tidak segan mengeluarkan makian kasar di depan umum.

Saya sangat menghormati anda Pak Gubernur sebagai pimpinan masyarakat Jakarta. Saya akan dukung penuh program nyata Bapak yang baik. Saya juga dukung penuh jika Bapak ingin membersihkan praktek curang dan korup. Namun sekali lagi lakukan itu dengan cara yang baik.

Terakhir Pak Gubernur, kebetulan pekerjaan saya mengharuskan saya berinteraksi dengan banyak tokoh dan pemimpin di berbagai negara. Ternyata mereka pun memberi perhatian terhadap berita-berita media menyangkut kiprah Bapak.

Dengan kerendahan hati saya berharap suara warga ini sampai dan Bapak mau dengarkan. Sebab sebaik-baik manusia adalah yang mau mendengarkan perkataan, dan mengikuti apa-apa yang baik.

Salam hormat,

Mahfuz Sidik

Jalan Mampang Prapatan No 43 – Jakarta Selatan. (indopos/one)