Miris, Setahun 5000 Petani Bogor Hilang

Panen Raya Danrem. Foto: Gatut Susanta
Panen Raya Danrem. Foto: Gatut Susanta
Panen Raya Danrem. Foto: Gatut Susanta
Panen Raya Danrem. Foto: Gatut Susanta

POJOKSATU.id, BOGOR – Presiden Joko Widodo menargetkan Indonesia bisa swasembada beras pada 2017. Tapi, bagaimana bisa. Sebab, produksi beras nasional kini terancam menurun setelah jumlah petani yang semakin sedikit.

Dari data yang didapat Radar Bogor, hasil sigi pertanian yang dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) menyebutkan, jumlah rumah tangga usaha tani di Indonesia pada 2003 masih 31,17 juta. Tapi, 10 tahun kemudian (2013) menyusut jadi 26,13 juta. Turun sekitar lima juta selama 10 tahun. Atau kalau dirata-rata 1,75 persen per tahun.

“Dalam setahun, terjadi penurunan jumlah rumah tangga petani sekitar 500 ribu,” kata Menteri Pertanian Amran Sulaiman.

Kondisi yang tak jauh berbeda juga terjadi di Kabupaten Bogor. Hasil teranyar sensus pertanian oleh BPS Kabupaten Bogor memaparkan, setiap tahunnya 5.000 petani Bogor beralih pekerjaan.


Kini, hanya 204.468 rumah tangga pertanian (RTP) yang mengais rezeki di bidang pertanian dari wilayah dengan jumlah penduduk sekitar 5,3 juta jiwa tersebut. Sejak 10 tahun terakhir jumlah RTP turun siginifikan. Pada 2003, RTP berjumlah 255.224, tapi pada 2013 berkurang 50.756 RTP. Artinya, setiap tahun turun sekitar 1,9 persen.

Kepala BPS Kabupaten Bogor Erwan Syahriza mengatakan, penurunan RTP paling banyak terjadi di Kecamatan Cileungsi, sedangkan di Kecamatan Sukamakmur paling sedikit.

Menurut dia, seiring berkembang pesatnya pembangunan di wilayah Cileungsi memaksa lahan pertanian menyempit dan para petani beralih ke sektor jasa dan industri.

“Jadi, para petani tidak tertarik lagi turun ke sawah. Hasil yang didapat lama, menjadi penyebabnya,” ucapnya.

Dari total luas wilayah Kabupaten Bogor 2.710,62 km2, sebanyak 45.214 hektarenya digunakan sebagai lahan aktif bercocok tanam. Tahun ini, pemkab menargetkan kebutuhan benih padi dalam lima tahun sebanyak 1.130,4 ton.

Dikonfirmasi terpisah, Bupati Bogor Nurhayanti menyatakan, pemkab memiliki lima program prioritas pertanian guna meningkatkan produksi beras dan menjaga lahan pertanian.

Pertama, melakukan perbaikan infrastruktur jalan menuju lahan pertanian, merevitalisasi irigasi, melatih masyarakat menjadi penyuluh aktif, program sawah abadi, dan memberi modal kepada petani tanpa agunan.

“Dari 900 irigasi yang kita miliki, 40 persennya rusak. Masalah penyuluh pertanian juga menjadi PR buat kami, lantaran proses rekrutmennya dari pemerintah pusat,” ujarnya kepada Radar Bogor, kemarin.

Karena itu, saat ini pemkab berinisiatif alih fungsi teknologi tani dilakukan secara manual dengan cara melatih masyarakat menjadi penyuluh. Mantan Sekda Kabupaten Bogor itu mengaku, pemkab juga mempunyai program sawah abadi yang sudah berjalan. Namun masalahnya, kepemilikan sawah ini sangat tergantung kepada pemiliknya.

“Kami tak bisa melarang pemilik menjual sawahnya,” jelasnya.

Berbicara tentang petani, masalah yang tak kalah penting adalah modal. Untuk itu, Nurhayanti berjanji akan bekerja sama dengan bank guna memberikan modal tanpa agunan kepada petani.

Sekadar diketahui, kebutuhan beras Kabupaten Bogor setiap tahun mencapai 105 kilogram per orang. Namun, sampai saat ini baru tercapai 63 persen. Nurhayanti menuturkan, meski produksi beras belum mampu mencukupi kebutuhan masyarakat Bogor, kabupaten memiliki lumbung padi di Kecamatan Cariu. Di mana produksi beras setiap tahunnya terus mengalami surplus hingga 300 persen.

“Lumbung padi Cariu mampu memproduksi beras 20.200 kilogram per tahun. Dengan jumlah penduduk 43 ribu penduduk, Cariu menjadi daerah yang memberi cadangan beras terbesar,” tandasnya.

Sementara itu, Kasi Pelayanan Usaha dan Perlindungan Tanaman pada Dinas Pertanian dan Kehutanan (Dinstanhut) Kabupaten Bogor Chrisnayana menyatakan, produksi beras petani lokal hanya mampu memenuhi kebutuhan 69 persen penduduk.

“Selebihnya, kita harus membeli dari luar, misalnya di Cianjur, Sukabumi dan Karawang,” ujarnya. Masalahnya saat ini, sambung Chrisnayana, terdapat 900 jaringan irigasi yang rusak. Jumlah ini tersebar hampir seluruh kecamatan Kabupaten Bogor.

Maka itu, solusi untuk menyeimbangkan kecukupan pangan dan jumlah penduduk adalah melakukan revitalisasi pertanian, salah satunya dengan memperbaiki sistem irigasi. “Sistem irigasi kita saat ini banyak yang sudah tua. Nanti akan kita perbaiki secara bertahap,” tandasnya. (ind/azi/hur/d/zul)