Di Bogor, Makan Dua Kali Sehari Masuk Kategori Miskin

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU.id, BOGOR – Warga miskin di Kota Bogor masuk dalam kategori tinggi, terutama di kawasan pinggiran. Data Tim Nasional Penanggulangan Kemiskinan (TNP2K) tahun 2011 menunjukkan, kawasan Mulyaharja, Bogor Selatan, Kota Bogor menduduki peringkat tertinggi penduduk sangat miskin dengan 582 Kepala Keluarga (KK) atau Rumah Tangga Sasaran (RTS).

Menurut Kepala Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (Bappeda), Suharto, pada tahun 2015 ini akan ada pendataan ulang untuk TNP2K. Karena ini sudah lewat dari periode pendataan rutin, yakni 3 tahun sekali.

Untuk keseluruhan, warga sangat miskin di Kota Bogor tercacat 17.188 KK atau RTS. Selain itu, ada juga kategori indikasi dan rentan miskin.

Ia mengatakan, ada 17 indikator kemiskinan, diantaranya penghasilan yang kurang dari Rp 632.000 per bulan dan kalori makan. “Kalau makan sehari cuma dua kali, itu masuk kategori miskin,” ujar Suharto, Rabu (18/3/2015).


Selain itu, indikator meliputi lapangan usaha, status kedudukan dalam pekerjaan, jenis atap terluas, jenis dinding terluas, jenis lantai, sumber air minum hingga fasilitas MCK.

“Kepesertaan KB, jenis cacat, penyakit kronis, pendidikan tertinggi, partisipasi sekolah, ijazah tertinggi dan kelas tertinggi juga masuk dalam kategori penilaian,” lanjut Suharto.

Untuk menanggulangi kemiskinan secara nasional dan di tingkat daerah, Suharto memiliki empat prinsip, yaitu memperbaiki program perlindungan sosial, meningkatkan aspek pelayanan dasar, memberdayakan kelompok masyarakat miskin dan pembangunan yang inklusif.

Sementara Ketua Komisi D DPRD Kota Bogor, Ujang Sugandi mengatakan sangat miris melihat data tersebut. Ia meminta Pemerintah Kota (Pemkot Bogor) lebih memperhatikan masyarakat di wilayah pinggiran.

“Masyarakat diperbatasan harus diperhatikan, sehingga bisa menekan angka kemiskinan di Kota Bogor,” harapnya.

Ujang berjanji akan segera memperjuangkan aspirasi masyarakat kecil. “Jangan sampai pembangunan cuma fokus di pusat kota. Warga perbatasan kan juga orang Bogor,” tegas Ujang.(cr1)