Gila! Nenek Asyani Sempat Diminta Uang Rp 4 Juta, Sebelum Masuk Bui

Nenek Asyani

POJOKSATU.id, SITUBONDO – Nasib Nenek Asyani mungkin tidak akan seperti sekarang, jika ia memiliki banyak uang. Nenek asal Situbondo ini pun tidak harus merasakan dinginnya penjara. Karena, sebelum dijebloskan ke sel, dia pernah dimintai uang oleh oknum Perhutani.

Temuan itu disampaikan anggota DPR Nihayatul Wafiroh setelah mengunjungi Nenek Asyani di Rutan Situbondo Sabtu lalu (14/3).

’’Ternyata sempat ada permintaan uang Rp 4 juta dari (oknum) mantri hutan. Ini pengakuan Mbah (Nenek Asyani). Jadi, gila banget,’’ terangnya kepada Jawa Pos Radar Situbondo Minggu (15/3).

Tawaran sangat tidak berperikemanusiaan itu, lanjut Nihaya, disampaikan sebelum kasus pencurian kayu jati diproses hukum di kepolisian. ’’Kalau tidak mau diproses, ya harus sedia uang Rp 4 juta. Mbah itu ngomong, beh pesse deri ka’emmah neng? (Loh, dapat uang dari mana saya?),’’ ungkap politikus PKB tersebut menirukan pengakuan Nenek Asyani.


Karena itulah, Nihaya mengaku wajar jika Nenek Asyani sempat histeris saat menjalani sidang di PN Situbondo begitu melihat oknum Perhutani yang melaporkannya. Mungkin dia menahan jengkel, bahkan amarah, karena sudah dizalimi.

’’Dia sampai histeris melihat wajah mantri (Perhutani) itu. Ya, karena Mbah merasa sangat dizalimi. Dia menahan jengkel. Seandainya dia mampu membayar, mungkin tidak akan seperti ini (dihukum),’’ papar perempuan berjilbab tersebut.

Menurut Nihaya, dalam kasus Nenek Asyani, proses hukum tidak berjalan dengan baik. Sebab, berdasar pengakuan yang didengarnya dari Nenek Asyani, penahanan perempuan renta dengan empat anak itu dilakukan dengan sembarangan. ’’Surat penangkapannya seperti apa, itu masih perlu dipertanyakan,’’ terangnya.

Selain itu, proses keadilan tidak berjalan. Masyarakat tidak tahu harus melangkah ke mana kalau sudah berurusan dengan hukum. ’’Ini sampai tiga bulan (ditahan) baru muncul ke permukaan,’’ katanya.

Nihaya berharap fungsi aktivis di tingkat lokal harus kian dikuatkan dan dimaksimalkan. Dengan demikian, untuk memberikan hak-hak hukum kepada masyarakat yang tertindas, mereka tidak perlu menunggu kasusnya ramai diberitakan. ’’Jadi, bagi saya, ini sebenarnya sudah sangat terlambat,’’ ujarnya.

Aparat hukum mempunyai sumbangsih yang besar dalam memenuhi rasa keadilan masyarakat. Saat masuk penyidikan, penyidik pasti bisa mempertimbangkan bahwa seorang nenek yang sudah tua renta barangkali tidak perlu ditahan. ’’Karena tak mungkin menghilangkan barang bukti. Tak mungkin melarikan diri,’’ tegasnya.

Terkait dengan kepentingan penangguhan penahanan, Nihaya sudah menghubungi kuasa hukum Nenek Asyani. Dia menyatakan akan menjadi salah satu penjamin penangguhan penahanan Nenek Asyani. ’’Termasuk bupati Situbondo, kapan hari kami sudah berkoordinasi untuk kepentingan ini,’’ terangnya. (pri/JPNN/c19/bh/lya)