Terlahir Perempuan, Menginjak Remaja Dada jadi Rata dan Berkumis

Keluarga Torikin, dari kiri, Zakaria, Alfiyah, Taufan Al Habid (digendong ayahnya, Torikin), Iklas Suni, dan Nur Iman (digendong ibunya, Seni) di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang Jumat (13/3). Foto:Radar Semarang.
Keluarga Torikin, dari kiri, Zakaria, Alfiyah, Taufan Al Habid (digendong ayahnya, Torikin), Iklas Suni, dan Nur Iman (digendong ibunya, Seni) di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang Jumat (13/3). Foto:Radar Semarang.
Keluarga Torikin, dari kiri, Zakaria, Alfiyah, Taufan Al Habid (digendong ayahnya, Torikin), Iklas Suni, dan Nur Iman (digendong ibunya, Seni) di Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang Jumat (13/3). Foto:Radar Semarang.

POJOKSATU.id –Torikin, 42, dan Seni, 39, pasangan suami istri yang tinggal di Desa Sokasari, Kecamatan Bumijawa, Tegal, Jawa Tengah, itu sudah dikaruniai sepuluh anak.

Namun, takdir menggariskan empat di antara sepuluh anak mereka meninggal dunia dengan sebab sakit yang tidak diketahui. Sedangkan empat anak lainnya kemudian terungkap mengalami kelainan genetis dalam bentuk kerancuan kelamin. Hanya dua anak dari pasangan yang bekerja sebagai buruh serabutan di desanya itu yang tumbuh normal.

Kepada Jawa Pos (induk pojoksatu.id), Torikin mengungkapkan ihwal diketahuinya kasus kerancuan kelamin pada anak-anaknya. Itu terjadi saat dia menerima keluhan dari anak pertamanya, Siti Damayanti, 18, dua tahun lalu.

Santri di salah satu pondok pesantren di Jombang, Jawa Timur (Jatim), tersebut sejak lahir terlihat sebagai perempuan. Selain itu, sifat-sifatnya memang cenderung perempuan.


”Namun, setelah menginjak remaja, Siti mengaku terjadi perubahan fisik,” ungkap Torikin. Kelainan muncul terutama pada payudara yang mulai hilang. Suara Siti juga berubah seperti laki-laki serta tumbuh kumis dan cambang pada wajah. Keluhan si sulung itu langsung mengingatkan Torikin pada kasus yang menimpa kerabatnya, Santi, 40.

Saat itu Santi mengungkapkan keluhan serupa dan akhirnya dibawa ke Rumah Sakit Nasional Diponegoro (RSND) Semarang untuk dicek di laboratorium. ”Pada 2012, Santi akhirnya sukses dioperasi di RSUP dr Kariadi Semarang,” tutur Torikin. (ewb/aro/c11/kim/fat/bersambung)