Ini Curhatan Bos Begal Sadis saat Habisi Korbannya

begal
Para begal yang berhasil ditangkap Polrestabes Surabaya. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos
begal
Para begal yang berhasil ditangkap Polrestabes Surabaya. Foto: Dimas Alif/Jawa Pos

POJOKSARU.id, SURABAYA – Jangan anggap remeh. Begal tampaknya memang “hanya” kriminal jalanan. Tapi rupanya mereka bekerja secara sistematis, termasuk melakukan perekrutan.

Misalnya, yang dilakukan komplotan Arif Winarno alias Grandong cs. Komplotan yang “bermain” di wilayah Surabaya ini terkenal sadis ketika beraksi.

Nah, mereka berani beraksi setelah melalui tahap seleksi dan pelatihan khusus yang bersifat alami dan instan. Pelatihan itu diberikan oleh mentor begal yang sudah berpengalaman.

Pembelajarannya pun dilakukan secara bertahap. Mulai memegang pedang atau paving, menyabet atau melempar, sampai melakukan percobaan dan beraksi sungguhan.


Mereka diajari bagaimana mendapat barang jarahan dan mudah kabur. ”Lihat (korban), langsung sabet,” kata Arif ketika ditemui di Pengadilan Negeri Surabaya.

Arif kini menjalani sidang setelah ditangkap Polsek Wonocolo. Dia bersama komplotannya membacok Wahyu Laksono Utomo, karyawan Jawa Pos (Grup pojolsatu.id), yang baru pulang kerja di Jalan Jemursari pada Agustus 2014. Arif diketahui sudah 12 kali beraksi di sejumlah tempat di Surabaya dan Sidoarjo.

Remaja 19 tahun itu mengaku mendapat ilmu begal setelah bergaul dengan teman sekomplotannya. Awalnya dia hanya bergabung menjadi teman biasa dan berlanjut pesta miras.

Kebiasaan pesta miras saat malam akhirnya menyeretnya pada aksi kejahatan karena tidak ada uang lagi untuk membeli minuman. Saat itulah dia dan empat temannya berbagi tugas. “Waktu itu belum pernah sama sekali,” ucapnya.

Peran yang diterima untuk aksi pertama adalah melumpuhkan korban. Teman-temannya menyuruhnya untuk menghabisi korban dengan cara apa pun, asalkan tidak berdaya. Bahkan, temannya memberi contoh ketika menebaskan celurit dan parang.

Awalnya Arif merasa takut. Ketika masa persiapan, dia gemetar saat memegang parang dan paving. Tapi, rasa itu lenyap setelah menenggak miras. Keberanian muncul makin tak terkira setelah minuman habis. Dia dan komplotannya pun beraksi.

”Setelah (pengalaman pertama) itu, sudah biasa,” ungkap mantan tukang antar galon air tersebut. (aya/did/eko/c7/ayi/zul)