2 Siswa SMP Begal Warga Depok, Begini Reaksi KPI

Begal Dibekuk, Berita Terkini Indonesia
Begal yang biasa beroperasi di Jabodetabek dibekuk polisi.
Begal Dibekuk, Berita Terkini Indonesia
Begal yang biasa beroperasi di Jabodetabek dibekuk polisi.

POJOKSATU.id, JAKARTA – Aksi 2 siswa SMP, AWP (13) dan ARS (13) yang membegal tukang ojek di Depok, Jawa Barat, membuat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) prihatin.

“KPAI prihatin anak SMP mencoba jadi begal. Masalah begal bukan hanya persoalan kriminalitas, tetapi persoalan utama adalah karakter dan moralitas,” ujar Komisioner KPAI bidang Pendidikan Susanto.

Susanto menambahkan sinergi antara tokoh agama, pendidik, orangtua dan masyarakat merupakan solusi pencegahan
untuk penguatan karakter anak. Sehingga bibit-bibit kekerasan atau perilaku begal bisa dicegah sejak dini.

Terkait soal penyebab dua pelajar sudah nekat menjadi penjahat, Susanto menegaskan hal itu harus dilihat berdasarkan latar belakang kedua pelaku.


Banyak kemungkinan yang dapat menjadi pemicu, salah satunya lingkungan pergaulan. “Tentu KPAI tak akan terburu-
buru menyimpulkan sebelum mempelajari konteks kasus dan profil anak. Tetapi, banyak kemungkinan yang bisa menjadi pemicu, bisa pengaruh teman atau lingkungan.

Bisa jadi dimanfaatkan orang atau karena berfikir sesaat, atau jangka pendek atau bisa jadi permisif orangtua, atau bisa jadi terins­pirasi oleh “trend pembegalan”. Jadi banyak kemungkinan,” pungkasnya.

Menurut dia, maraknya kasus begal yang melibatkan pelajar, menjadi pertanda bahwa telah terjadi kegagalan dalam internalisasi nilai keadaban kepada peserta didik.

Saat ini, kata Susanto, masalah dan tantangan hidup semakin kompleks. Gaya hidup semakin hari semakin berubah seiring perkembangan zaman.

Dulu guru bukan hanya menjadi sumber ilmu, tetapi juga menjadi sumber nilai. Terkait kasus begal yang dilakukan siswa SMP, kata Susanto, metodologi internalisasi nilai-nilai keadaban dan keagamaan juga perlu dikembangkan.

“Hemat saya, perlu revitalisasi metode internalisasi nilai keadaban bagi orangtua, guru bahkan tokoh agama. Jangan sampai nilai agama sekadar sebagai pengetahuan, tetapi belum menjadi kepribadian. Idealnya, nilai agama itu menjadi pengetahuan sekaligus kepribadian,” kata Susanto seraya menyesalkan 2 siswa SMP yang membegal warga Depok. (jun/mam/one)