Perjuangan Plt Pimpinan KPK Indriyanto Melawan Kanker

RUTIN BEROBAT: Indriyanto Seno Adji (kiri) bersama Taufiequrachman Ruki dan Johan Budi. Meski divonis kanker, Indriyanto tetap menjalankan tugas sebagai Plt pimpinan KPK. (Agus Wahyudi/Jawa Pos)

POJOKSATU – Sejak 2012 lalu Plt Pimpinan KPK, Indriyanto Seno Adji divonis menderita kanker. Sempat mengalami shock, namun ia tak pernah lelah berjuang untuk bisa sembuh dari penyakit mengerikan tersebut.

Indriyanto mulai merasakan ketidakberesan pada tubuhnya pada 2010. Ketika itu dia mengalami batuk berkepanjangan, hingga setengah bulan.

Puncaknya, 11 November 2010, ketika Indriyanto baru saja merayakan ulang tahunnya ke-53. Ia tiba-tiba mengalami sakit yang luar biasa. Sakit itu dia rasakan di sisi kiri tubuhnya, mulai dari kepala, mata, pundak sampai punggung.

Dia juga sempat kehilangan suaranya. Sakit yang luar biasa itu terasa hingga 10 menit. Indriyanto awalnya dilarikan ke rumah sakit swasta di Jalan Gatot Subroto, Jakarta. Pemeriksaan lengkap dijalani dan Indriyanto dinyatakan sehat.


Sakitnya kembali kambuh pada 22 November. Ketika itu Indriyanto mencoba berobat ke rumah sakit lain di kawasan Karawaci. Selain berobat, dia juga ingin mecari second opinion. Di rumah sakti itu, dia menjalani scan dengan MRI (Magnetic Resonance Imaging).

”Scan itu dilakukan menyeluruh ke kepala dan daerah perut,” tulisnya. Lagi-lagi dia dinyatakan sehat.

Saking tak percayanya, seminggu kemudian Indriyanto melakukan pemeriksaan lagi pada THT (telinga, hidung dan tenggorokan). Hasilnya juga tidak ada masalah.

Masih belum yakin, Indriyanto kemudian melakukan pemeriksaan torak (X-ray) dan CT Scan. ”Saat itu saya tak yakin karena masih kerap mengalami sakit di bagian-bagian yang sama,” ujarnya.

Tes yang dilakukan pada 1 Desember itu ternyata menjadi peristiwa yang paling mengerikan dalam hidup Indriyanto. Dia dinyatakan mengidap kanker. Dalam kondisi panik bercampur sedih, Indriyanto cerita ke keluarganya. Kepanikan pun melanda seluruh keluarga.

Beruntung, pada saat yang bersamaan datang Maria Soetopo, putri mantan manajer direktur Bank Indonesia, Paul Soetopo. Maria yang selama ini kerap menjadi konsultan kesehatan di keluarga Indriyanto menyarankan untuk melakukan medical check-up di Singapura.

Dua hari setelah dinyatakan menderita kanker, Indriyanto menuruti nasihat Maria untuk pergi ke Singapura. Dia menjalani serangkaian tes di sebuah rumah sakit. Namun, hasilnya mengecewakan. Serangkaian tes yang menyakitkan itu masih belum membuahkan hasil. Indriyanto hanya tetap disuruh menjalani tes yang menyakitkan. Sampai akhirnya Maria menemukan pengobatan khusus kanker di Parkway Cancer Center di bawah penanganan Dr Ang Peng Tiam.

Di tempat itulah kemudian diputuskan Indriyanto harus kemoterapi. Yang membuatnya optimis menghadapi kanker ialah semangat yang diberikan Dr Ang Peng. Ketika itu, dokter mengatakan pada Indriyanto bahwa pengobatan hanya menyelesaikan masalah tak lebih dari 60 persen. Yang utama dalam penyembuhan kanker ialah semangat penderitanya.

Indriyanto menjalani kemoterapi pada 14 Desember 2010. Dia mengaku kesehatannya jauh membaik setelah melakukan kemoterapi. Selama kurun waktu 1,5 tahun, Indriyanto setidaknya sudah menjalani 19 kemoterapi dan 30 tomoterapi. ”Sampai sekarang pengobatan masih berjalan,” ujarnya. Saat ini dia mengaku sudah bisa menjalani aktivitas normal meski harus tetap menjalani pengobatan. (Putri Annisa/gun/fal/jpnn/lya)