Upah Supir Truk Aceh-Jakarta Sekali Jalan Rp 20 Juta, tapi…

ilustrasi
ilustrasi
ilustrasi

POJOKSATU – Untuk ukuran gaji supir, upah yang diterima Masykur lumayan besar. Sebagai supir truk box untuk sekali jalan dari Aceh ke Jakarta, dia mendapat upah Rp 20 juta. Tapi sangat berisiko karena truk yang dibawa mengangkut ganja yang akan dipasok di Ibukota.

Pengakuan Masykur itu terungkap setelah Polda Metro Jaya berhasil menggagalkan pengiriman 2 ton ganja kering asal Aceh ke Ibu Kota. Ganja yang dikemas dalam 2.000 pak itu disita dari mobil box yang sudah dimodifikasi.

Kapolda Metro Jaya Irjen Pol Unggung Cahyono mengatakan penangkapan ini dilakukan setelah dilakukan pengembangan dari kasus penemuan ganja 1,2 ton di dalam truk barang di kawasan Kalideres, Cengkareng, Jakarta Barat pada Desember 2014 lalu.

”Penggagalan peredaran ganja ini berdasarkan informasi dari tersangka yang sudah ditangkap di Kalideres pada Desember lalu. Dari tersangka yang duluan ditangkap jadi diketahui akan ada pengiriman ganja dalam jumlah besar yang berangkat dari Aceh ke Jakarta pada Februari ini,” ujarnya, kemarin (13/2).


Dijelaskan Unggung, penangkapan itu dilakukan di Jalan Trans Sumatera Provinsi Riau. Operasi penangkapan itu menurut Unggun dilakukan Polres Jakarta Barat, Polda Riau, dan Satuan Brimob Polda Metro Jaya. ”Kami berterima kasih kepada Polda Riau atas kerjasamanya,” tukas Unggung.

Sedangkan Kasat Narkoba Polres Jakarta Barat AKBP Gembong Yudha menjelaskan, daun ganja kering seberat 2 ton ini dikemas dalam kardus yang dilakban berbentuk batu bata sebanyak 2.000 picis. Setiap satu picis ganja itu seberat satu kilogram. Ganja kering itu di sita dalam mobil box Mitsubshi Fuso bernopol BK 9988 IB warna putih yang dikemudikan Fatur.

”Jadi bagian belakang truk box sepanjang 12 meter itu disekat pelat besi dan ditutupi papan. Bagian atas di sekat triplek. Kalau dibuka terlihat kosong bagian boxnya, tapi dibalik dinding papan itu ganja disimpan. Nah, setiap kilo ganja dijual Rp 2 juta. Berarti untuk 2.000 picis nilainya Rp 4 miliar,” terang Gembong.

Dijelaskannya juga, akhir Desember lalu, awalnya pihaknya menangkap tiga tersangka asal Aceh secara berturut-turut. Pertama yang ditangkap Nasir, dan empat hari kemudian ditangkap Zaini di rumah isteri mudanya di Kampung Malimping, Banten. Dari hasil penyidikan diketahui kalau Nasir dan Zaini sudah melakukan pengiriman ganja empat kali dari Aceh ke Jakarta.

Selanjutnya polisi menangkap Masykur di Desa Simpang Beringin Kecamatan Bandar Sekijang Palelawan Riau. Kepada polisi Masykur mengaku hanya bertugas menyopiri truk yang membawa ganja itu.

”Dari ketiganya selain menyita ganja, kami menyita pula satu truk Mitsubshi Fuso bernopol BK 9988 IB warna putih,” tukas Gembong.

Menurutnya juga,  dalam keterangannya Masykur mengaku sudah menyopiri truk pengangkut ganja sebanyak tiga kali sejak 2012 dengan upah Rp 20 juta sekali angkut.

”Setibanya di Medan, truk  dibawa ke Merak. Setiba di Merak  barang (ganja) dipindahkan ke dalam mobil-mobil kecil,” papar Gembong juga.

Namun terkadang Masykur diperintahkan langsung menunggu di Jakarta atau Merak Banten, untuk melanjutkan membawa truk ganja. Lalu truk ganja itu dibawa Masykur  ke Ciawi dan Jabodetabek.

”Pengiriman akan dilanjutkan dengan mobil kecil yang sudah disekat-sekat. Mereka sudah tiga kali lolos, ini yang keempat dan kami tidak terkecoh,” papar  juga perwira menengah Polri itu lagi.

Dijelaskan Gembong juga, selama perjalanan dari Aceh menuju Riau memang telah dilakukan beberapa kali pemeriksaan truk oleh petugas polisi. Namun, para pelaku berhasil mengelabui petugas.  ”Pengakuan Fatur selama dari Aceh menuju Riau, truk diperiksa tiga kali. Namun lolos karena orang melihat seolah-olah tidak ada apa-apa,” beber Gembong juga.

Untuk mengetahui apakah truk tersebut membawa muatan, maka harus dilihat dengan cara memeriksa setiap bagian kendaraan tersebut. ”Kami melihat beban, kalau per lurus itu berati truknya penuh,” pungkasnya. (ind/asp/dep)