Serang Jokowi, Politisi PDIP Puji SBY

Effendi Simbolon
Effendi Simbolon
Effendi Simbolon

POJOKSATU – Keretakan antara Presiden Jokowi dengan PDI Perjuangan semakin terlihat. Sejumlah politisi senior tak segan-segan mengkritik kebijakan Jokowi. Politisi Partai pimpinan Megawati Sukarnoputri yang paling keras menyerang Jokowi ada Effendi Simbolon.

Ketua DPP PDIP itu berulangkali mengkritik Jokowi. Bahkan Effendi Simbolon pernah menyatakan sudah saatnya memakzulkan Jokowi. Tak hanya itu, Effendi juga sudah mulai membanding-bandingkan rezim Jokowi dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY).

Effendi Simbolon tak segan-segan menyerang Jokowi dan memuji SBY. Pernyataan paling keras diungkapkan oleh Effendi saat Jokowi menaikkan harga BBM. Ketika itu Jokowi belum genap menjabat dua bulan jadi presiden.

Menurut Effendi Simbolon, Jokowi dikelilingi orang-orang paham neo liberal seperti Rini Soemarno dan Sudirman Said. Effensi Simbolon yakin Jokowi tidak akan lama menjabat sebagai presiden.


“Saya tidak tahu (alasan JK menaikkan BBM), dan mendengar Sudirman Said, Rini itu kan orang Pak JK. Tidak ada unsur PDIP. Mazhabnya itu aliran liberal menempatkan komoditas subsidi jadi pasar bebas,” kritik Effendi Simbolon.

Sagking kesalnya dengan sejumlah kebijakan yang dilakukan oleh Jokowi, Effendi Simbolon bahkan menyebut jika SBY lebih baik memimpin Indonesia ketimbang presiden yang didukung partainya itu. Khususnya soal penanganan Jokowi terhadap kisruh KPK vs Polri yang tak kunjung selesai.

“Saya kira ini tidak jadi pertimbangan dalam memutuskan atau melantik, jauh sekali beda saat pemerintahan SBY yang bisa memberdayakan aparatur. Enggak bisa pengalaman dibeli instan, maka ke depan harus memilih pemimpin yang punya track record,” tegas Effendi yang juga anggota Komisi I DPR ini.

Tidak hanya mengkritik Jokowi, Effendi Simbolon juga menyebut Jokowi dikelilingi orang-orang yang tidak pengalaman. Dengan demikian, Jokowi kesulitan memutuskan persoalan calon Kapolri ini.

“Saya kira lingkaran Jokowi yang menyesatkan, belum punya track record dikancah politik nasional akhirnya karut marut, untuk menetapkan Kapolri saja,” pungkasnya. (one)