Ini yang Terjadi Jika Jokowi Ngotot Lantik Budi Gunawan

Komjen Budi Gunawan
Komjen Budi Gunawan

Budi Gunawan

POJOKSATU – Rumor yang menyebutkan Presiden Joko Widodo akan melantik Komisaris Jenderal Budi Gunawan Kepala Kepolisan RI yang baru di Istana Bogor hari ini, mengundang polemik. Sementara konflik antara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dengan Polri belum teratasi, langkah Jokowi ini, jika jadi, melantik Budi Gunawan dipastikan akan menimbulkan “banjir” bandang politik.

Pengamat komunikasi politik dari Universitas Indonesia (UI), Ari Junaedi, menilai kontroversi dari pengangkatan Budi Gunawan sebagai Kapolri pasti akan menimbulkan “tohokkan” politik yang cukup dahsyat bagi Jokowi. Selain melawan arus suara publik yang menghendaki keadilan, penyematan status tersangka bagi BG, demikian nama panggilan Budi Gunawan, akan memberatkan langkah politik Jokowi.

“Politik perlawanan terhadap Jokowi akan semakin gaduh. Jokowi mengingkari saran dan nasehat dari tim independen yang dibentuknya sendiri. Di satu sisi, Koalisi Merah Putih yang terlihat mendukung pencalonan BG sedari awal nantinya akan berbalik arah menelikung kebijakan Jokowi. Dan Demokrat yang semula memilih menolak pencalonan BG, akan menjadi leader upaya impeachment terhadap Jokowi,” terang Ari Junaedi kepada Kantor Berita Politik RMOL (Grup Pjoksatu.id) beberapa saat lalu (Jumat, 13/2).


Menurut pengajar mata kuliah Humas Politik di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) UI ini, arus perlawanan terhadap Jokowi akan semakin menguat. Kebijakan-kebijakan Jokowi yang “melukai” para pemilihnya di Pipres kemarin akan menjadi blunder baru.

“Sikap ngotot penunjukkan terhadap BG, pemilihan Proton Malayisa sebagai mitra pengembangan mobil nasional serta sikapnya yang lamban terhadap konflik Polri dan KPK serta pembiaran anggota tim suksesnya menduduki posisi-posisi strategis akan makin menyudutkan Jokowi ke depannya. Ibarat pertandingan tinju, kapan saatnya knock out makin mudah ditebak,” demikian Ari Junaedi yang juga pengajar di Program Pascasarjana UI dan Universitas Diponegoro (Undip) Semarang ini. (ysa/dep)