Ini Daftar Lima Penambang Naas yang Terkubur Hidup-Hidup di Cianjur

Ilustrasi
Tim penyelamat melakukan evakuasi di lokasi penambangan. Foto Guruh/pojoksatu.id
Tim penyelamat melakukan evakuasi di lokasi penambangan. Foto Guruh/pojoksatu.id

POJOKSATU – Upaya evakuasi empat dari lima penambang emas yang masih terjebak di gua tambang  Desa Karyamukti Kecamatan Campaka, akhirnya berhasil dikeluarkan, kemarin.

Keempatnya ditemukan sudah tewas setelah sehari sebelumnya terjebak di dalam lubang tambang Deckland, Selasa (10/2) lalu di kedalaman lebih dari 1,5 kilometer.

Keempat korban yakni, Juman (55) warga Kampung Bantar Panjang Desa Cimenteng Campaka, Encep (32) warga Kampung Bantar Gebang Desa Cimenteng Campaka, Wardi (25) warga Kampung Cimanggu Desa Karyamukti Campaka, dan Paul (34) warga Kampung Padaasih Desa Cibokor Cibeber.
Sebelumnya, seorang penambang Amud (20) warga Jampang Sagaranten Kabupaten Sukabumi, sudah berhasil dievakuasi pada Selasa petang lalu, di lubang tambang Shuff, setelah menghisap gas beracun di dalam lubang tambang di lokasi yang sama. (Baca Juga : 5 Pemburu Emas Terkubur Hidup-Hidup di Cianjur)

Kapolres Cianjur, AKBP Dedy Kusuma Bakti mengatakan, jenazah para penambang emas yang terjebak, berhasil dievakuasi satu per satu pada, Kamis (12/2) sekitar pukul 06.50 WIB secara bergantian.


Selanjutnya, dilakukan pengecekan terhadap satu persatu jenazah oleh dokter serta identifikasi Unit Identifikasi Polres Cianjur. Kemudian pada pukul 07.50 WIB dengan dikawal pihak kepolisian, keempat jenazah diantarkan serta diserahkan kepada keluarga masing-masing untuk dimakamkan.

“Proses evakuasi di dalam underground mining (pertambangan di bawah tanah,red) cukup sulit dibandingkan dengan evakuasi yang lainnya. Pasalnya selain karena tingkat kesulitan yang sangat tinggi, risiko terhadap tim SAR sendiri juga sangat tinggi,” kata Dedy, kemarin.

Dikatakan Dedy, jenasah korban sebenarnya sudah ditemukan sehari sebelumnya. Namun tim SAR dihadapkan dengan berbagai kendala teknis serta sangat sempitnya ruangan tempat para korban berada, membuat proses evakuasi berjalan cukup sulit.

Selain itu, volume air di dalam lorong sulit untuk dikendalikan, meski sudah menggunakan empat pompa air berukuran besar yang dua diantaranya adalah pompa baru yang khusus didatangkan dari Bandung.

“Ruangan dan lorong-lorongnya sangat sempit. Sangat sulit bagi tim SAR untuk bergerak. Upaya evakuasi juga terkendala sering lepasnya pipa pompa. Padahal itu pompa baru,” jelas Dedy.

Menurut Dedy, mengingat sulitnya medan dan kondisi, proses evakuasi pun harus dilakukan dalam empat tahapan utama yang masing-masingnya memiliki tingkat kesulitan dan risiko tersendiri.

Untuk tahap pertama melakukan penyedotan dan pengurasan air yang memenuhi ratusan meter ruangan lorong tambang yang bercabang-cabang, berkelok-kelok dan naik-turun.

Sementara air yang menutup jalan akses keluar-masuk satu-satunya itu juga memiliki kandungan material asam yang sangat tinggi. Hal itu membuat udara yang ada di dalam lubang tambang itu menjadi beracun dan bisa menghilangkan nyawa manusia yang menghirupnya dalam sekejap saja.

“Itu sebabnya ada beberapa tim SAR yang juga harus mendapatkan perawatan medis akibat menghirup gas beracun,” ujarnya.

Tahap kedua memasukkan oksigen murni yang di ambil dari atas permukaan tanah untuk didorong hingga ke seluruh ruangan lorong tambang dengan menggunakan blower dengan durasi satu hingga dua jam per periodenya. Tentu saja, itu baru bisa dilakukan setelah air terkuras habis terlebih dahulu.
Selanjutnya, setelah dipastikan benar-benar aman, tim SAR bisa mulai menelusuri lorong-lorong tambang agar bisa mencapai posisi terakhir para korban. Di sini, tim SAR pun juga mendapati kesulitan karena, selain harus membawa sejumlah peralatan dan tabung oksigen untuk bernafas, lorong tambang itu juga berukuran sangat sempit.

“Setelah tiga tahapan itu, tim SAR baru bisa mengevakuasi para korban. Itu pun masalah tersendiri untuk bisa mengeluarkan para korban dan harus satu per satu,” tuturnya.

Dedy menambahkan, para korban sendiri ditemukan sekitar 1,5 kilometer dari pintu masuk lubang tambang Deckland. Keempatnya berada di dalam satu lokasi yang cukup berjarak satu dengan yang lainnya. Dari posisi korban ke satu hingga korban ke empat berjarak lebih kurang 20 meter.

Dedy melanjutkan, para korban tersebut berada di ruangan yang jika digambarkan berbentuk mirip dengan huruf ‘Y’ yang tegak berdiri. Sedangkan air yang menggenangi dan menutup lorong serta lubang tambang ada pada bagian lubang vertikal ke bawah yang dinamai sebagai Lubang Hernawan hingga kedua simpangan lorong di sisi atasnya.

“Jadi, korban terjebak dan tenggelam di titik pertemuan ruangan yang berbentuk mirip huruf ‘Y’ itu,” ungkapnya.

Berkenaan dengan kejadian ini, pihaknya sudah memanggil 10 orang saksi untuk dimintai keterangan. Jika memang nantinya di dalam pemeriksaan itu ditemukan adanya unsur pidana, maka pihaknya tidak akan ragu-ragu untuk menetapkannya sebagai tersangka.

“Saat ini kami sudah memeriksa 10 orang saksi untuk dimintai keterangannya. Kita lihat saja hasilnya nanti seperti apa. Yang jelas, setelah fokus pada upaya evakuasi korban, kini kami alihkan fokus ke penyidikan,” pungkasnya.(ruh/dep)