Tragis, Ratusan WNI Terancam Hukuman Mati

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi (Jawa Pos Dok)
Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi (Jawa Pos Dok)
Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi (Jawa Pos Dok)

POJOKSATU – Peradilan di Indonesia saat ini sangat tegas dalam pelaksanaan hukuman mati terkait kasus narkoba. Hal ini karena didasari oleh dampak yang ditimbulkan dari bahaya penyalah gunaan narkoba.

Menteri Luar Negeri Retno Lestari Priansari Marsudi mengatakan dilihat dari angka kematian yang disebabkan narkoba Indonesia cukup tinggi. Tercatat 10 persen dari total angka kematian. Sedangkan, 43 persen peredaran narkoba dunia ada di Indonesia. Dari data tersebut, menurut dia Indonesia mengalami dampak yang buruk dari kejahatan narkoba.

“Indonesia dulu jadi transit perdagangan narkoba, sekarang jadi negara destinasi bagi pengedaran narkoba,” ujarnya di komplek parlemem, Senayan, Jakarta, Kamis (12/2).

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo menolak permohonan grasi terpidana mati kasus narkoba asal Australia Andrew Chan dan Myuran Sukumaran dalam sindikat Bali Nine. Keduanya dalam waktu dekat menjalani eksekusi. Kebijakan ini banyak menuai protes dari berbagai negara yang warganya bakal di hukum mati.


Sementara itu, data Kementerian Luar Negeri (Kemenlu) tentang WNI yang mendapat ancaman hukuman mati tercatat 238 WNI telah dibebaskan dalam kurun waktu empat tahun sejak 2010. Namun, masih ada 229 WNI terancam hukuman mati dimana, 57 persen merupakan kasus narkoba dan 34 persen kasus pembunuhan.

Kemenlu mengklaim sudah memberikan perlindungan maksimal bagi WNI yang terancam hukuman mati di luar negeri. Aksinya mulai dari memfasilitasi, pendampingan lawyer, penghadiran keluarga, upaya diplomatik dan lain sebagainya. Tapi, Retno menyampaikan setiap kejahatan yang dilakukan sesungguhnya harus dipertanggungjawabkan oleh yang bersangkutan. “Setiap orang bertanggung jawab pada tindakan yang dilakukannya,” tutur Retno. (Desyinta Nuraini/dio/zul)