Susi Pudjiastuti Setara atau Lebih Hebat dari Laksamana?

thumb_406289_10073412022015_menteri_susi_di_kri_aceh

POJOKSATU – Kapal asing asal Thailand yaitu KM SUDHITA 28 telah ditenggelamkan beberapa waktu yang lalu di Selat Dempo, Batam, Kepulauan Riau.

Untuk kegiatan menenggelamkan sebuah kapal ilegal fishing dibutuhkan tujuh kapal. Namun yang melakukan eksekusi penenggelaman hanya dua kapal yaitu KP HIU 004 dan KRI Halasan 630. Empat kapal yang lain melakukan sterilisasi lokasi kegiatan.

Sementara KRI Barakuda 633 membawa rombongan Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti beserta beberapa pejabat dari instansi terkait, di antaranya Direktur Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Asep Burhanuddin dan Panglima Armada Kawasan Barat Laksda TNI Widodo.


Tentu banyak biaya yang dikeluarkan untuk sekedar acara seremoni penenggelaman kapal asing berbendera Indonesia itu. Misalnya untuk BBM tujuh kapal, biaya SPJ para pejabat dari beberapa instansi, biaya hotel, biaya untuk publikasi kegiatan, dan lain-lain.

Namun ada yang menarik dari kegiatan tersebut, dan ini mungkin untuk pertama kalinya terjadi di Indonesia di mana seorang pejabat yakni Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendapatkan baret biru lengkap dengan lambang satuan TNI-AL dan bintang empat. Biasanya bintang disematkan di baret bagi anggota TNI sesuai dengan pangkatnya, misalnya jenderal atau laksamana yang diangkat sebagai warga kehormatan suatu satuan.

Entah apa pertimbangan yang melatarbelakangi pemberian bintang empat itu untuk seorang menteri yang notabene adalah sipil. Orang sekaliber Purnomo Yusgiantoro yang pernah menjabat menteri pertahanan sekalipun tidak pernah mendapatkan bintang empat ketika diangkat sebagai warga kehormatan di lingkungan TNI-AL.

Apakah karena Susi Pudjiastuti dianggap setara atau lebih hebat dari seorang jenderal atau laksamana? Walahu’alam. Yang jelas di Indonesia kini banyak keajaiban yang telah terjadi.(wid/rmol/dep)