Jokowi Curhat di Kongres UII, Sakitnya Itu Disini

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

POJOKSATU – Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyampaikan apresiasi dari beberapa Kepala Negara dunia terhadap kerukunan umat beragama di Indonesia.

“Beberapa kali saya bertemu dengan kepala negara dari negara-negara yang lain. Selalu disampaikan penghargaan kepada kita yang merupakan negara muslim terbesar di dunia dengan toleransi hormat-menghomati dan saling menghargai,” kata Presiden saat menutup Kongres Umat Islam Indonesia (UII) VI di Yogyakarta, Rabu (11/2).

Menurut Jokowi, para Kepala Negara itu selalu berkata, bahwa Indonesia bisa dijadikan sebagai role model sebagai negara muslim terbesar di dunia dengan tingkat toleransi yang tinggi. Selalu mengambil jalan tengah dalam menghadapi masalah, sehingga tidak ada sebuah ekstrimisme yang sangat. “Itulah yang dilihat oleh negara lain,” ungkapnya.

Namun demikian, Presiden mengingatkan, bahwa masih banyak sekali tantangan yang dihadapi oleh bangsa Indonesia. Ia menyebut masalah-masalah itu berkaitan dengan keadilan, individualisme, konsumerisme, hedonisme, kebodohan, pengangguran, dan kemiskinan, yaitu mengentaskan kemiskinan, menciptakan pemerataan kesejahteraan, mempersempit jurang kemiskinan, dan memerangi buta huruf.


“Inilai tantangan yang tidak akan saya tutup-tutupi. Ini yang harus kita umat Islam dan pemerintah bersama-sama mengatasi ini. Jadi yang penting sesungguhnya bukan pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan ekonomi dan pemeratannya,” tekan Presiden.

Kepada para peserta kongres, yang terdiri atasĀ  MUI, perwakilan ormas Islam tingkat pusat, pondok pesantren, perguruan tinggi, lembaga-lembaga Islam domestik dan mancanegara, kalangan profesional dan tokoh perorangan, Presiden mengajak agar bisa melihat kesenjangan yang ada di sekitar.

“Di Jakarta masih banyak kita lihat gap. Bapak Ibu silakan coba saja ke Jalan Sudirman, Jalan Thamrin, naik ke lantai 60, kemudian turun lagi setelah itu ke Tanah Tinggi atau langsung ke Marunda rasanya kelihatan sekali. Dan sakitnya itu di sini,” kata Presiden Jokowi sembari mengelus dadanya.

Presiden Jokowi mengakui bahwa pemerintah memiliki PR besar yang harus segera diselesaikan menyangkut kesenjangan ekonomi tersebut. “Sewaktu saya jadi Gubernur DKI Jakarta disodori data statistik yang miskin 3,8 persen, yang rentan miskin 37 persen . Saya tanya apa bedanya miskin dan rentan miskin yang jawab juga bingung. Sudahlah jangan buat kata yang sumir dan absurd, miskin ya miskin,” kata Jokowi.

Presiden juga menyinggung masalah bahaya narkoba yang sudah darurat dan harus diperangi. Begitu pula dengan miras yang sekarang dilarang dijual di minimarket.

Adapun masalah besar bangsa Indonesia terakhir yang disampaikan Presiden adalah korupsi, meskipun sekarang juga sedang ramai kasus KPK vs Polri, yang juga belum bisa diselesaikan karena saling bertumpukan masalahnya.

“Tidak hanya satu masalah itu, ada tumpukan masalah politik, masalah prosedur hukum, ada lagi tumpukan masalah APBD yang baru berjalan di Dewan. Tumpukan-tumpukan seperti ini yang harus saya urai satu-persatu dan itu butuh waktu,” terang Jokowi seperti dilansir dari laman Setkab. (rus/rmol/dep)