Nenek Tua Hamil Tumor Ganas

BUTUH BANTUAN : Marsih warga Cianjur yang mengalami Tumor Ganas.
BUTUH BANTUAN : Marsih warga Cianjur yang mengalami Tumor Ganas.
BUTUH BANTUAN : Marsih warga Cianjur yang mengalami Tumor Ganas.

POJOKSATU -Nasib prihatin dialami Marsih (70) warga Kampung Rancagoong RT 05/02 Desa Rancagoong Kecamatan Cilaku, Kabupaten Cianjur sudah tiga tahun mengandung penyakit tumor ganas.

Perut nenek tua renta ini mengembang dengan diameter 100 centimeter. Selain tumor, Marsih juga alami penyakit komplikasi. Maka perutnya kian hari kian membesar dan mengeras.

Didah (38) keponakan Marsih mengatakan, perut bibinya itu mula-mula kecil dan tidak berasa apa-apa, tapi semakin hari semakin membesar. Bahkan kini perutnya mulai timbul garis-garis, yang kian terlihat jelas.

Meski sudah terasa sakit, tapi ia masih bisa melakukan aktifitas yang biasa dilakukan oleh orang normal lainnya seperti ke kamar mandi membeli makanan, bahkan pergi ke pasar “Sudah duduk terasa berat susah jalan, tapi kalau berdiri masih bisa,” ujar Didah.


Tapi kini dengan perut yang sangat besar, Marsih sudah tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Ia hanya bisa tidur terlentang dengan menahan rasa sakit perutnya. Aktivitasnya hanya dilakukan di atas tempat tidur dan ngesot, mulai dari buang air kecil hingga besar serta mandi dan lainnya. “Saya sudah capek, saya butuh berobat,” keluh Marsih menimpali perkataan Didah.

Kini, Marsih hidup berdua dengan suaminya Ajo (55) yang bekerja sebagai pemulung. Ibu yang sudah memiliki dua anak ini hanya mengandalkan belas kasih dari keluarga suaminya dan masyarakat setempat. Kedua anaknya saat ini merantau ke luar kota, mereka pun kehilangan komunikasi. Dengan kondisi hidup serba kekurangan, keluarga pun tak mampu membawa Marsih  berobat ke rumah sakit.

Meski begitu, pihak keluarga pernah membawanya berobat ke RSUD Cianjur, tapi pihak rumah sakit belum mampu menanganinya, dikarenakan peralatan yang belum memadai dan  tidak ada persetujuan dari pihak keluarga dan anak-anaknya.

“Saya merasa prihatin melihatnya, sangat mengkhawatirkan, suaminya hanya pemulung, anak-anaknya tidak ada,” ujar Timtim (45) tetangga Marsih.

Ketua RT setempat Ujang Ahmad Nurdi menyebutkan, jika pihaknya sudah beberapa kali hendak membawa Marsih berobat, hingga operasi, tapi pihak keluarga ada yang tidak setuju, hingga akhirnya diurungkan. “Hanya bisa melakukan kontrol terhadap keluarga ini saja, dan memberikan perhatian khusus,” ungkapnya.

Kepala Desa Rancagoong Dede Ridwan berharap, pemerintah bisa memfasilitasi dan membujuk supaya warganya ini bisa segera diobati. “Kami minta perhatian dari pemerintah, karena kami hanya bisa bantu sebatas bantuan sosial sealakadarnya saja,” jelasnya.(cr1/dep)