Juragan Bakso Bunuh Tiga Wanita

PEMBUNUHAN: Dadang Suganda (67) juragan bakso warga Garut saat diperiksa sebagai tersangka pembunuhan tiga wanita dan penganiayaan wanita yang dipacarinya di Mapolsek Warungkondang Cianjur, kemarin.
PEMBUNUHAN: Dadang Suganda (67) juragan bakso warga Garut saat diperiksa sebagai tersangka pembunuhan tiga wanita dan penganiayaan  wanita yang dipacarinya di Mapolsek Warungkondang Cianjur, kemarin.
PEMBUNUHAN: Dadang Suganda (67) juragan bakso warga Garut saat diperiksa sebagai tersangka pembunuhan dan penganiayaan wanita.

POJOKSATU – Dari perawakan dan perwajahannya, orang tidak akan pernah menyangka jika Dadang Suganda (67), warga Kabupaten Garut ini tega menghabisi nyawa tiga perempuan yang dipacarinya secara beruntun.

Tidak cukup di situ saja. Petualangan asmara pria kelahiran Kampung Cimanggu, Desa Pasir Jeruk, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Cianjur itu cukup mencengangkan. Ia juga berhasil merebut hati serta menjalin asmara dengan enam wanita lainnya yang diantaranya juga masih bersuami. Padahal, Dadang sendiri sudah memiliki tiga orang istri di Kabupaten Garut.

Namun petualangan cintanya harus berakhir di balik jeruji besi setelah berhasil dibekuk oleh Polres Kabupaten Garut awal Februari lalu. Dia dituduh jadi pelaku pembunuhan tiga perempuan yang salah satunya atas nama Neni (40) warga Tarogong, Garut.

Neni sendiri ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa di tengah areal persawahan di Kampung Ciwalen Lapang RT 01/09, Desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang, Cianjur pada, Senin 24 November 2014 lalu sekitar pukul 14.00 WIB.


Dari pengakuan Dadang, ia tega membunuh ketiga wanita tersebut karena merasa dendam dan sakit hati. Perempuan pertama yang ia habisi nyawanya adalah Rosa (40) warga Garut. Dengan Rosa pelaku mengakui telah menjalin hubungan asmara yang juga berjualan di dekat salah satu cabang depot baksonya.

Bahkan dengan Rosa diakuinya pernah melakukan persetubuhan. Namun karena sudah tua dan tenaga loyo, Rosa kemudian menceritakan kondisi pacarnya itu kepada orang lain, sehingga membuat Dadang merasa malu serta marah.

“Saya malu dan marah karena dia cerita ke orang-orang soal itu. Padahal saya sudah memberinya uang Rp500 ribu,” ujar Dadang di hadapan penyidik Polsek Warungkondang.

Kemudian, setelah berhasil membujuk Rosa untuk jalan-jalan, ia pun lantas menghabisi nyawanya. Peristiwa dan kronologis yang sama dilakukan Dadang kepada Acih (50), dan terakhir pada Neni yang ditemukan meninggal di Kampung Ciwalen Warungkondang Cianjur.

Neni sendiri ia habisi nyawanya dengan menggunakan sebuah pemotong kuku yang ia tusukkan berulang kali ke tubuh Neni hingga tersungkur. Hal itu ia lakukan setelah berjalan-jalan dengan perempuan yang sudah bersuami itu ke Kebun Raya Cibodas dan kawasan Puncak dengan menggunakan sebuah sepeda motor sehari sebelum ia ditemukan dalam keadaan tidak bernyawa.

Ketika itu, aku Dadang, Neni mengeluh kelelahan dan meminta untuk beristirahat dulu. Namun, permintaan itu ditolak Dadang karena tidak mau sampai kemalaman ketika tiba di Garut. Apalagi, Dadang sendiri harus menyiapkan dan memasak bakso yang ia jual setiap harinya.

Keduanya pun terlibat cekcok yang cukup sengit. Hingga akhirnya sempat berhenti di pinggir jalan, dan tanpa disadari Neni pun sudah mengambil sebuah bambu yang langsung memukulkannya pada kepala Dadang hingga berdarah. “Dia langsung mengambil bambu dan memukul kening saya hingga berdarah,” terang Dadang.

Dadang pun naik pitam, lalu menghujamkan sebuah pemotong kuku ke tubuh Neni berkali-kali hingga tersungkur bersimbah darah. Setelah itu, Dadang tidak langsung pergi meninggalkan Neni yang ia kira hanya tertidur saja.

Anehnya, Dadang lalu mengambil ranting dan dahan pohon yang kemudian ia tata sedemikian rupa untuk digunakan sebagai alas tidur untuk bermalam tepat di sebelah jenasah Neni. Selanjutnya, Dadang pun meninggalkan jenasah Neni pada esok dini hari sekitar pukul 04.00 WIB untuk kembali ke Garut. “Neni saat itu cuma tidur saja kok. Makanya saya juga tidur di sebelahnya. Saya baru tahu dia meninggal saat saya bangun. Terus saya pulang ke Garut,” sangkal Dadang yang tidak memiliki anak dari ketiga istrinya itu.

Aksi Dadang tidak cukup menghabisi nyawa Neni saja. Ia pun mempreteli kalung, gelang, dua buah cincin emas, uang dan telepon selular korban yang selanjutnya ia jual dengan cukup murah di Garut keesokan harinya. “Sampai di rumah saya langsung buat bakso. Perhiasannya saya jual untuk modal jualan bakso,” aku Dadang.

Dadang mengakui, dari tiga perempuan yang sudah ia habisi nyawanya itu, ia juga melakukan hal yang sama. Total perhiasan emas yang ia dapatkan dari para korbannya itu berjumlah lebih dari 140 gram yang semuanya ia jual untuk modal jualan depot baksonya di Cipondoh, Limbangan, Cicadas dan Bojongsalam, Kabupaten Garut. “Dapat Rp30 juta lebih. Hasilnya saya pakai modal jualan bakso. Tapi selalu habis,” sambungnya lagi.

Kapolsek Warungkondang Kompol Samsa menjelaskan, terungkapnya pembunuhan berantai ini setelah pihaknya berkoordinasi dengan Polres Kabupaten Garut, setelah diketahui Neni, korban terakhir Dadang yang ditemukan di Kampung Ciwalen Lapang RT 01/09, Desa Ciwalen, Kecamatan Warungkondang, Kabupaten Cianjur adalah warga Kabupaten Garut.

“Pelaku berhasil ditangkap awal Februari lalu. Setelah dilakukan penggeledahan di rumahnya, ditemukan sejumlah barang-barang para korban,” kata Samsa.
Selain tiga korban meninggal, menurut pengakuan Dadang, ia juga melakukan hal yang sama kepada enam perempuan lainnya. Namun, keenam perempuan tadi hanya diminta perhiasannya dan dianiaya oleh pelaku. “Enam korban lainnya ini dianiaya dan dirampas perhiasannya,” jelasnya.

Adapun enam perempuan yang menjadi korban pembunuh berantai ini antara lain, War (55) warga Cicalengka, Bandung. Ipah (53), Yeti (47), Rina (30) dan Nur (53) warga Kabupaten Garut. Sedangkan satu korban selamat lainnya, yakni Imas (27) warga Kabupaten Sumedang.

Atas perbuatannya itu, polisi menjerat pelaku pasal berlapis, yakni Pasal 340 subsider 338 subsider 365 dengan ancaman hukuman maksimal 20 tahun penjara. “Dikenakan pasal pembunuhan berencana karena memang ada unsur perencanaannya sebelum mengeksekusi korban,” lanjut Samsa.

Namun, sambung dia, tuntutan kepada pelaku bisa saja digabungkan dengan yang lainnya. Pasalnya, selain korban lebih dari satu, TKP nya juga tidak hanya di satu tempat saja. “Untuk saat ini, penyidikan terhadap pelaku masih berjalan. Bisa saja hukumannya bertambah dan diakumulasi karena memang korban dan TKP nya lebih dari satu,” pungkasnya.(ruh/dep)