5 Pemburu Emas Terkubur Hidup-Hidup di Cianjur

Ilustrasi
Tim penyelamat melakukan evakuasi di lokasi penambangan. Foto Guruh/pojoksatu.id
Tim penyelamat melakukan evakuasi di lokasi penambangan emas di Cianjur, Jawa Barat. Foto Guruh/pojoksatu.id

CIANJUR – Tambang emas di Kampung Tugu Gunung Mas Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Cianjur Jawa Barat memakan korban. Lima orang terkubur hidup-hidup di dalam lubang tambang. Satu di antaranya sudah dievakuasi dalam keadaan tidak bernyawa, sementara empat lainnya masih terjebak di dalam lubang.

Penambang yang dievakuasi dalam keadaan sudah meninggal yakni Ahmud (20), warga Jampang, Sagaranten, Kabupaten Sukabumi. Sedangkan empat penambang yang masih terjebak yakni J dan E, warga Kecamatan Campaka, serta W dan P, warga Kecamatan Cibeber, Cianjur.

Lubang tambang emas itu berbentuk vertikal ke bawah seperti lubang sumur dengan kedalaman puluhan meter. Lubang itu berbentuk hurul L. Jadi, setelah turun ke bawah, akan ada lorong di perut bumi yang jaraknya ratusan meter. Lorong itu dibuat oleh para penambang.

Berdasarkan informasi yang dihimpun Radar Cianjur (Grup Pojoksatu.id), kejadian nahas itu bermula ketika para penambang masuk ke dalam. Ada dua lubang yang dibuat oleh para penambang, yakni lubang Shuff dan lubang Deckland. Di lubang Shuff, Ahmud ditemukan meninggal dunia, sedangkan empat penambang yang masih terjebak, masuk di lubang Deckland.


Empat penambang tersebut diduga tak bisa bernafas di dalam lubang akibat banjir. Pasalnya, pompa air yang biasanya menyedot air di dalam lubang, tak berfungsi alias mati.

Beberapa penambang lain sudah memperingatkan empat rekannya supaya tidak masuk ke dalam lubang karena pompa air belum berfungsi, tetapi saran itu diabaikan.

“Sudah diperingatkan. Tapi mereka tidak menghiraukan dan terus melanjutkan aktivitasnya. Padahal air terus bertambah dengan sangat cepat,” tutur Asep (25), salah seorang saksi yang juga teman korban, Rabu (11/2) kemarin.

Kuasa Direksi PT Cikondang Kencana Prima (CKP) selaku pemilik Izin Usaha Pertambangan (IUP), Ikhwan Nes menuturkan, PT CKP sebenarnya belum memberikan izin bagi para penambang untuk menambang di lokasi tersebut. pasalnya, kesiapan sarana dan prasarana penambangan belum layak. Namun, diakuinya, kondisi di lapangan sangat bertolak belakang dan para penambang sangat sulit dibendung.

“Jadi mereka merekrut investor di luar PT CKP dan melakukan aktivitas penambangan secara mandiri. Kami pun tak bisa melarang, karena alasan perut. Pernah coba kami larang, tapi para penambang justru protes dan melakukan perlawanan,” kata Ikhwan. (ruh/one)