Lucu, Pistol Pemberian Kabareskrim ke Ketua KPK Dianggap Tidak Resmi

Komjen Pol Suhardi Alius

POJOKSATU – Konflik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri tak kunjung reda. Bahkan, semakin hari semakin melebar. Perseteruan tidak hanya terjadi antara KPK dan Polri, tapi juga para jenderal di internal Polri.

Konflik ini berawal ketika Presiden Jokowi menunjuk Komjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal kapolri. Tiga hari berselang, KPK langsung menetapkan jenderal bintang tiga itu menjadi tersangka pemilik rekening gendut.

Sejak saat itulah, konflik kedua lembaga ini memanas. Serangan bertubi-tubi diarahkan ke KPK. Sejumlah masalah terkesan diada-adakan untuk menyerang lembaga antirasuah itu.

Hingga saat ini, Ketua KPK Abraham Samad telah empat kali menerima serangan balik, mulai dari penyebaran foto mesra dengan Putri Indonesia 2014 Elvira Devinamira Wirayanti. Tersebarnya foto ini sangat berdekatan dengan momen penetapan status tersangka kasus rekening gendut kepada calon kapolri Komjen Budi Gunawan dari KPK, Selasa (13/1) sore.


Abraham Samad pun langsung menepis bahwa foto itu hanya rekayasa dan fitnah. “Itu fitnah semua. Ini gosip yang sengaja disebarkan untuk menghancurkan diri saya dan mengkriminalisasi saya,” ujar Abraham.

Kasus kedua dan ketiga datang hampir bersamaan. Foto bobo mesra Abranam Samad dengan sosialita Feriyani Lim di sebuah kamar hotel tersebar. Pada saat bersamaan, Plt Sekjen PDIP Hasto Kristiyanto menuding Abraham Samad bermain politik saat Pilpres 2014 lalu.

Kasus terbaru adalah kepemilikan senjata api. Samad dilaporkan sekelompok orang yang mengatasnamakan diri Gerakan Masyarakat Bawah Indonesia (GMBI) asal Bandung, Jawa Barat, atas dugaan kedaluwarsa surat kepemilikan izin senjata api.

“Kami melaporkan Abraham Samad selaku ketua KPK, yang memiliki pistol tetapi surat izinnya mati,” kata Ketua GMBI Mochamad Masyur di Bareskrim Mabes Polri, Jakarta Selatan, Senin (9/2).

Menurut Masyur, pemberian senjata api itu bukan hal biasa. Dia menduga hadiah tersebut merupakan bagian dari gratifikasi. Pistol itu diberikan oleh Komjen Suhardi Alius ketika masih menjabat Kabareskrim kepada Ketua KPK.

“Gratifikasi, hasil hibah bahwa AS telah mendapatkan pistol dari Komjen Suhardi. Titik utamanya adalah Abraham Samad, tapi si pemberi juga termasuk seiring berjalannya pemeriksaan,” ujarnya.

Kasus ini sengaja menyeret mantan Kabareskrim, Komjen Suhardi Alius. Suhardi dimusuhi sebagian jenderal di internal Polri karena dianggap pengkhianat. Selain itu, kasus tersebut juga sekaligus upaya menjegal Suhardi masuk dalam bursa calon kapolri.

Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) juga sudah menyampaikan secara terang-terangan jika Suhardi Alius tak akan dimasukkan menjadi calon kapolri. Kompolnas hanya menyaring empat nama jenderal bintang tiga, yakni Wakapolri Komjen Badrodin Haiti, Irwasum Komjen Pol Dwi Priyatno, Kabaharkam Komjen Putut Eko Bayuseno, dan Kabareskrim Komjen Budi Waseso.

Dari alur konflik KPK dan Polri bisa terbaca bahwa konflik jenderal di internal polri sangat kuat. Konflik itu berawal dari pencopotan Kapolri Jenderal Sutarman yang dilanjutkan dengan pencopotan Suhardi Aliyus dari Kabareskrim. Orang-orang dekat Jenderal Sutarman yang notabene bagian dari rezim SBY pun satu per satu disingkirkan. (one)