Waduh….Siswa SMA Bisa Lulus Jika Masih Perawan Atau Perjaka?

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU – Tes keperawanan dan keperjakaan terhadap siswa tingkat SMP dan SMA yang diwacanakan Anggota Komisi D Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Jember, Jawa Timur, Mufti Ali, menuai protes dari kalangan guru.

Mufti mengusulkan dibentuknya peraturan daerah (Perda) tentang perilaku yang baik dan terpuji, berupa Perda yang mengatur tentang tes keperjakaan dan keperawanan bagi siswa SMP dan SMA sebagai salah satu syarat kelulusan.

Sekretaris Jendral Federasi Guru Independen Indonesia (FGII) Iwan Hermawan, mengatakan usulan Perda Keperawanan dan Keperjakaan itu jelas melanggar Hak Asasi Manusia (HAM).

“Kami jelas tidak setuju. Kan sudah berkali-kali tes keperawanan siswa SMP dan SMA itu sudah jelas ditentang” kata Iwa, Minggu (8/02)


Ia juga mengatakan bahwa Perda tersebut bertentangan dengan Peraturan Pemerintah no 32 Tahun 2010, yang menyebutkan bahwa seorang siswa-siswi bisa dikatakan lulus apabila nilai rapornya lengkap dan bagus. Juga berkelakuan baik, nilai ujian akhir sekolah minimal memenuhi standarisasi kelulusan.

“(Kelulusan) seharusnya tidak dikaitkan dengan moral (perawan dan tidak perawan). Terhadap (siswa) yang tidak bermoral itu (pernah melakukan seks), kita jangan selalu menyalahkan siswanya, tetapi, mungkin kesalahan pendidikan, pengaruh lingkungan, peran guru dan peran orangtua yang kurang mengawasi,” katanya.

Sebelumnya, anggota Komisi D DPRD Kabupaten Jember, Mufti Ali, mengusulkan dibentuknya perda tentang perilaku yang baik dan terpuji. Salah satu poin dalam perda itu mengatur tentang tes keperjakaan dan keperawanan sebagai salah satu syarat kelulusan siswa di tingkat SMP dan SMA.

Ide itu muncul saat Komisi D menggelar rapat dengar pendapat dengan Dinas Pendidikan Jember menemukan di salah satu SMP di Jember, ternyata sejumlah siswi berulang kali melakukan hubungan seksual dengan pacarnya.(mad/ril)