Siapa Sebenarnya Raja Abdullah II, Sosok Ambisius Penghancur ISIS

Raja Abdullah II
Raja Abdullah II
Raja Abdullah II

POJOKSATU – Ketika mendengar aksi brutal Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) saat sedang mengunjungi AS, Raja Jordania Abdullah II, langsung mempersingkat kunjungan kerjanya dan segera pulang ke negaranya. Ia sangat murka. Isis telah membunuh pilot muda negeri itu, Maaz al-Kassasbeh, kemudian menyebar video pembantaiannya ke internet beberapa waktu lalu.
Tiba di Jordanis, ia sempatkan untuk menyampaikan ucapan bela sungkawa kepada keluarga korban, Al-Kassasbeh. Tak berselang lama, ia langsung memerintahkan angkatan udaranya untuk melakukan penyerangan. Jet-jet tempur negara itu menggempur membabi buta di wailayah Surian yang diduduki ISIS.

Tindakan ini mendapat respon beberapa pengamat. Raja Abdullah yang baru beberapa hari kemarin merayakan Ulang tahunnya ke-53 ini dianggap sudah melakukan tindakan yang tepat dan pantas.

“Raja Abdullah sangat realistis saat menghadapi krisis,” kata Mohammad Abu Rummaneh, seorang peneliti di Pusat Studi Strategis Universitas Jordania.

Robert Danin, peneliti senior di lembaga Dewan Studi Timur Tengah untuk Hubungan Luar Negeri, sepakat dengan pendapat Abu Rummaneh.


“Raja Abdullah selalu memandang masalah ISIS dengan pemikiran jernih. Dia menganggap ISIS sebagai ancaman baik untuk Jordania maupun kawasan Timur Tengah,” ujar Danin.

Abdullah sangat cepat memberi respon. Apalagi hal itu terkait dengan kekerasan dan tindakan penghinaan terhadap negaranya. Nasionalismenya tak bisa ditawar-tawar. Ia menyayangi warganya. Lantas siapa sebenarnya Abdullah?

Di masa mudanya, Abdullah, seperti halnya sang ayah, mendapat pendidikan di Akademi Militer Sandhurst, Inggris yang bergengsi. Dia juga mendapatkan “lisensi” menerbangkan helikopter tempur Cobra.

Tak hanya itu, Abdullah adalah komandan pasukan khusus Jordania sebelum kemudian menjadi raja menggantikan ayahnya, Raja Hussein, yang wafat pada 1999.

Di sisi politik, posisi Abdullah juga sangat kuat. Konstitusi negeri itu membuat Abdullah benar-benar mengendalikan semua sendi pemerintahan. Dia bisa membentuk dan membubarkan pemerintahan bahkan dalam titik tertentu juga bisa membubarkan parlemen.

Abdullah juga memelihara hubungan baik dengan suku-suku yang menjadi tulang punggung keutuhan kerajaan tersebut.

Di sisi lain, Abdullah menikahi Ratu Rania (44), seorang perempuan Kuwait kelahiran Palestina. Hal ini menjadi penting karena hampir separuh dari tujuh juta penduduk Jordania memiliki darah Palestina.

Sosok Abdullah yang dihormati di kalangan militer sekaligus disegani para politisi menjadi sangat relevan karena Jordania, menurut Abdullah, adalah sebuah negeri yang terjepit di antara “karang dan tempat yang keras”, yang merujuk lokasi antara Irak dan Tepi Barat yang diduduki Israel.(AFP/ril)