Karena Tarif Listrik dan Skandal Korupsi, Popularitas Presiden Ini Anjlok

Presiden Brasil Rousseff
Presiden Brasil Rousseff
Presiden Brasil Rousseff

POJOKSATU – Popularitas Presiden Brasil, Dilma Rousseff, mengalami anjlok drastis sejak ia terpilih kembali sebagai presiden pada Oktober 2014.

Popularitasnya menurun seiring makin kuat dugaan dirinya terkait skandal korupsi, perlambatan ekonomi dan melonjaknya harga tarif listrik, tarif bensin dan tarif bus.

Lembaga polling The Datafolha, dalam hasil survei yang dirilis Sabtu (7/2) menyatakan, dari 4.000 orang yang diwawancarai, menunjukkan mereka yang menilai kinerja Rousseff sebagai “sangat baik atau baik” jatuh ke 23 persen, dari 42 persen pada Desember setelah dia memenangkan masa jabatan keduanya dalam peemilihan presiden yang ketat.

Selama periode yang sama, persentase orang-orang yang menilai kinerjanya sebagai “buruk atau buruk” naik menjadi 44 dari 24 persen. Ini adalah pertama kalinya sejak Rousseff menjabat pada tahun 2011.


Sisa responden, 33 persen, menilai pemerintahan Rousseff sebagai “rata-rata”. Angka ini tidak berubah sejak Desember.

Perekonomian diperkirakan akan menyusut pada bulan-bulan pertama tahun ini, inflasi tahunan berada di atas 7 persen dan meningkat, dan Brazil menghadapi kemungkinan kekurangan air dan energi karena musim kemarau yang berkepanjangan.

Dalam polling itu juga, 60 persen responden mengatakan mereka percaya Rousseff telah berbohong selama masa kampanye.

Sementara itu, 77 persen responden mengatakan mereka percaya Rousseff tahu tentang korupsi di perusahaan minyak milik negara, Petrobras, yang ia kendalikan selama beberapa tahun sebagai presiden, dan sebelumnya selama pemerintahan Luiz Inacio Lula da Silva, ketika dia menjabat ketua dewan.

Rousseff sendiri telah membantah mengetahui korupsi yang bernilai miliaran dolar itu.

Memburuknya citra Rousseff konsisten di seluruh kelompok usia. Tetapi ia masih cukup baik di mata kelompok-kelompok sosial ekonomi termiskin, yang paling banyak diuntungkan kebijakan Rousseff dan pendahulunya, Lula da Silva. (ald/rmol/dep)