Rakyat Bali Kirim Sejuta Kartu Pos untuk Jokowi

thumb_216679_12265507022015_kartu_pos
POJOKSATU – Satu juta warga Bali mengirim kartu pos kepada Presiden Joko Widodo untuk mendukung revitalisasi Teluk Benoa.

“Sejuta kartu pos ini sebagai bentuk dukungan rakyat Bali terhadap revitalisasi. Kami ingin bapak Presiden mengetahui langsung dukungan rakyat Bali,” ujar koordinator aksi sejuta kartu pos rakyat Bali I Gede Wijaya dalam keterangannya kepada redaksi, Jumat malam (6/2).

Dia menjelaskan, mayoritas rakyat Bali ingin mendukung revitalisasi Teluk Benoa dengan cara damai dan menghindari aksi provokasi yang menjurus pada tindakan anarki. Cara damai itu selain dilakukan melalui gerakan kartu pos juga melalui berbagai pagelaran konser.

“Kami memilih cara ini karena pesan yang ingin kami sampaikan lebih efektif, langsung sampai pada Presiden,” kata Wijaya.


Sejuta kartu pos yang dikirim untuk Presiden Jokowi tersebut berisi tulisan tangan tentang berbagai harapan rakyat Bali kepada Presiden. Pesan yang ditulis seperti ‘Revitalisasi Harga Mati’ atau ‘Jokowi adalah kita, kita dukung revitalisasi’ dan lainnya.

Menurut Wijaya, ide untuk mengirim sejuta kartu pos untuk Presiden tersebut muncul karena hingga saat ini belum ada tanda revitalisasi akan dilakukan.

“Banyak rupanya rakyat Bali yang dukung revitalisasi teluk Benoa. Ada juga yang semula menolak, setelah dijelaskan mereka bisa menerima. Tampaknya banyak rakyat Bali yang selama ini salah menerima informasi tentang manfaat revitalisasi teluk Benoa,” paparnya.

Seperti diberitakan, kondisi Teluk Benoa saat ini memprihatinkan karena pendangkalan yang mengancam kehidupan hutan mangrove akibat sedimentasi. Bahkan, Teluk Benoa dipenuhi sampah sisa pembangunan jalan tol maupun sampah rumah tangga. Kondisi ini mendorong pemerintah mengeluarkan Peraturan Presiden Nomor 51/2014 yang membolehkan dilakukan revitalisasi di Teluk Benoa.

Dari luas perairan Teluk Benoa yang hampir 1.400 hektar, area yang akan direklamasi seluas 700 hektar atau 50 persen dan hanya 400 hektar atau 28,5 persen yang akan dikembangkan sebagai pusat-pusat wisata yang baru.

Sementara sisanya seluas 300 hektar beserta Perairan Teluk Benoa akan didedikasikan untuk ruang terbuka hijau dan fasilitas sosial serta fasilitas umum (Fasos Fasum). Studi kelayakan bersama yang dilakukan IPB, ITB, UGM, ITS dan Unhas juga menghasilkan kesimpulan, kawasan Teluk Benoa dapat direvitalisasi. (why/dep)