Fakta Baru Foto Mesra Abraham 5, Marah karena Selalu Diancam Sebar Foto

Abraham Samad (kiri) saat menunjukkan analisa foto yang mirip dirinya. Foto : Int
Abraham Samad (kiri) saat menunjukkan analisa foto yang mirip dirinya. Foto : Int
Abraham Samad (kiri) saat menunjukkan analisa foto yang mirip dirinya. Foto : Int

Puncak kekecewaan Zainal kepada Abraham Samad adalah kejadian pada pertemuan terakhirnya mereka, satu hari di bulan Februari 2014.

Mereka bertemu saat melayat jenazah ibu seorang tokoh di Komplek Perumahan Dosen Unhas di Makassar, sekitar satu kilometer dari Masjid Al-Markaz. Sewaktu jenazah hendak diantar ke Masjid Al-Markaz, Zainal mendekat ke mobil kawan S yang datang bersama Abraham. Lagi-lagi ia ditampik lewat S.

“Jangan ko kau ikut di mobil ini, Pak Ketua tidak enak dan tidak mau kau naik di sini. Soalnya kamu caleg.”

Zainal yang tak membawa kendaraan, memutuskan untuk berjalan kaki ke Al-Markaz. Di sebuah kelokan jalan, mobil yang membawa Abraham dan kawan lainnya, melintas di samping Zainal.


“Tidak tong na kasi turun kaca mobilnya hanya sekadar menyapa saya yang jalan kaki. Di situ, saya sedih dan rasanya mau menangis,” kata Zainal. (Baca: Fakta Foto Mesra Abraham 4, Zainal Sakit Hati Selalu Diusir)

Tentang aneka peristiwa itu saya hanya dengar dari mulut Zainal seorang. Semalam, saya menanyakan soal ini kepada Supriansa. Mengapa Abraham menghindari Zainal? Supriansa yang masih juga marah kepada Zainal hanya menjawab singkat. “Tentu Abraham marah, Zainal selalu ancam dia dengan foto itu.”

Kunang-kunang mulai berkisaran di kepala saya. Betapa pelik dan memusingkan. Saya tahu Zainal salah besar, membuka aib (bekas) kawan seiring. Dia tak sadar, testimoninya adalah tsunami untuk kehidupan seorang Abraham, bagi keluarganya, juga untuk sebuah persahabatan yang panjang. Zainal juga lupa, dalam posisinya sebagai Ketua KPK, Abraham juga adalah sebuah simbol untuk penegakan hukum dan anti-korupsi.

Ah, saya tak hendak memasuki wilayah politik dan hukum, keluasan samudera yang hanya saya pahami dari riaknya di permukaan. Saya hanya ingin bercerita tentang putusnya sebuah ikatan, tentang luruhnya persahabatan hanya karena sebuah tindakan dari pikiran yang pendek. Adakah motif yang lain dari Zainal? Allah Maha Tahu. (one/habis)

Singapura, 6 Februari 2015
Tomi Lebang