Buku ‘Zina’ Rusak Moral, Ketua Umum PP: Permintaan Maaf Saja Tidak Cukup

Ini buku 'Zina' yang menghebohkan
Ini buku 'Zina' yang menghebohkan
Ini buku ‘Zina’ yang menghebohkan

POJOKSATU – Beredarnya buku “Saatnya Aku Belajar Pacaran” yang membuat resah masyarakat harus menjadi perhatian serius. Sebab buku Toge Aprilianto itu mengancam perlindungan anak dari segi kesehatan, moral, agama dan hukum.

Demikian ditegaskan Ketua Umum PP Nasyiatul Aisyiyah Norma Sari Kantor Berita Politik RMOL (Grup Pojoksatu.id) dalam pesan singkat sesaat lalu, Sabtu (7/2).

“Permintaan maaf lewat laman akun Facebook semata belum menyelesaikan masalah. Namun bagaimana penarikan peredaran secepatnya harus dipastikan dilakukan oleh penulis, penerbit serta siapapun yang masuk jalur distributor,” tegasnya.

Norma mengingatkan, negara lewat institusi yang berwewenang wajib menjaga dan menyelamatkan generasi muda dari pengetahuan yang menyesatkan. Yakni yang bertentangan dengan moral, kepatutan umum dan hukum


Karena itu, tindakan tegas aparat hukum menjadi sangat berarti sebagai suatu pembelajaran bagi siapapun yang dikemudian masih ada yang melakukan hal serupa, yaitu menulis dan menyebarluaskan materi yang merusak akhlak dan moral generasi penerus bangsa.

Meski begitu, dia menambahkan, selain negara yang harus bertindak, masyarakat luas harus secara bersama-sama melakukan pengawasan dan pencegahan terhadap mereka yang mencoba memberikan pendidikan yang menyesatkan.

“Saat ini yang urgen bagi anak-anak terutama remaja adalah pendidikan kesehatan reproduksi yang akan menjadikan mereka tumbuh kembang menjadi generasi sehat sekaligus jauh dari aktivitas maksiat,” tandasnya.

Buku penulis asal Surabaya tersebut mendapat sorotan belakangan ini. Karena dinilai tidak layak. Bahkan, dalam buku tersebut, Toge mengungkapkan, “Sebetulnya wajar kok kalau pacar ngajak kamu ML. Wajar juga kalau kami ngajak pacarmu ML. Hal itu naluriah alamiah. Jadi pertanda kalau kamu dan/atau pacarmu masih punya energi buat terlibat dlm proses reproduksi yang memang sewajarnya dimiliki oleh setiap makhluk hidup”.

Karena itu, meski Toge sudah minta maaf, Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) tetap melaporkannya dan pihak penerbit, Brillian Internasional, ke Bareskrim Polri. Toge Aprilianto, menurut Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak Ariest Merdeka Sirait, bisa dijerat dengan pasal penghasutan.(zul/rmol/lya)