Begini Modus Penyeludupan Pakaian Bekas Impor

Ilustrasi Pakaian Bekas Impor. Ist
Ilustrasi Pakaian Bekas Impor. Ist
Ilustrasi Pakaian Bekas Impor. Ist

POJOKSATU – Setelah pemerintah memastikan akan menutup impor pakaian bekas, isu ini kemudian menjadi sorotan sejumlah pihak. Sebagai pihak yang terkait langsung dengan sistem distribusi barang dari dalam dan luar negeri, Direktorat Bea dan Cukai Kementerian Keuangan mengaku telah mengetahui dua modus penyeludupan tersebut.

Kasubsdit Humas dan Penyuluhan Bea Cukai Kemenkeu, Haryo Limanseto, mengatakan bahwa cara pertama adalah penyelundupan dari pelabuhan tikus, seperti di pesisir Sumatera bagian Timur, yang berdekatan dengan negara tetangga, yakni Singapura.

“Sebentar saja barang sudah sampai kalau masuk ke pelabuhan yang tidak diawasi pengawas,” kata dia, Jumat 6 Februari 2015, seperti diansir Viva.co.id.

Yang kedua, lanjut Haryo, adalah memalsukan dokumen barang sehingga seolah-olah barang tersebut dibuat menjadi perdagangan antar pulau.


Pakaian bekas impor dari Malaysia dibawa dulu ke Kalimantan, lalu dibawa ke Sulawesi dengan kapal, dan akhirnya dikirimkan ke Jawa.

“Kalau perdagangan antar pulau, Bea Cukai tidak memeriksanya,” kata dia.

Lanjut Haryo, Januari silam, Bea dan Cukai mengumumkan telah menggagalkan 17 kontainer yang berisi pakaian bekas impor.

Sekadar informasi, pakaian bekas itu tidak langsung dikirim dari luar negeri, tapi dikirim dulu ke Timor Leste. Dari Timor Leste, barang dikirimkan ke Kendari, Sulawesi Tenggara, dan dikapalkan ke Surabaya, Jawa Timur.

Modusnya hampir mirip dengan perdagangan antar pulau dan ini diakui merupakan modus baru.

“Memang ada modus baru: penyelundupan dalam kontainer. Biasanya pakaian bekas dibawa di atas dek kapal. Kalau yang ini, ada 4.600 bal dalam satu kontainer,” kata dia. (ril)