Dilarang Mendaki Ijen pada Malam Hari, Ada Apa?

FENOMENA ALAM: Sejumlah pendaki menikmati pemandangan blue fire di puncak Gunung Ijen pada Jumat malam (30/1) sebelum diberlakukan larangan mendaki.
FENOMENA ALAM: Sejumlah pendaki menikmati pemandangan blue fire di puncak Gunung Ijen pada Jumat malam (30/1) sebelum diberlakukan larangan mendaki.
FENOMENA ALAM: Sejumlah pendaki menikmati pemandangan blue fire di puncak Gunung Ijen pada Jumat malam (30/1) sebelum diberlakukan larangan mendaki.

POJOKSATU – Para wisatawan untuk sementara tidak diizinkan mendaki Gunung Ijen. Sejak 29 Januari lalu, diberlakukan larangan mendaki pada malam. Larangan itu diterapkan karena aktivitas gas beracun di gunung yang memiliki ketinggian 2.386 dari permukaan air laut (dpl) tersebut terus meningkat.

Larangan itu dikeluarkan Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA), dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD).

Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Banyuwangi Eka Muharram membenarkan soal adanya larangan mendaki Ijen pada malam. Menurut dia, kondisi gas beracun yang meningkat karena hujan lebat akhir-akhir ini cukup tinggi. ’’Curah hujan yang tinggi mengakibatkan aktivitas gas solfatara di kawah Ijen meningkat. Itu sangat beracun. Pada malam, tingkat gas beracunnya lebih tinggi dan sangat padat,’’ terangnya Kamis (5/2).

Eka menyatakan, larangan pendakian pada malam itu didasarkan koordinasi pihak BKSDA, PPGA, dan BPBD Banyuwangi. Sebab, pada malam gas solfatara tidak bisa terurai. ’’Siang (pendakian) tetap kita buka karena gas tersebut bisa terurai oleh matahari. Kalau malam, kita tutup. Karena tidak ada matahari, gas tersebut tidak bisa terurai dan sangat berbahaya bagi pendaki,’’ paparnya.


Dia menyebut, penutupan pendakian pada malam itu berlaku pukul 14.00 hingga 04.00. Dia belum bisa memperkirakan sampai kapan pendakian malam ditutup. Sebab, hujan yang menjadi salah satu pemicu aktivitas gas beracun hingga kini masih berlangsung. ’’Tidak bisa diperkirakan sampai kapan. Yang pasti, kalau hujan dan gas solfataranya berkurang, akan kita buka lagi pendakian pada malam,’’ tutur Eka.

Dengan meningkatnya aktivitas gas beracun tersebut, kata dia, pihak BKSDA telah memasang spanduk pelarangan pendakian malam. ’’Itu demi keselamatan pengunjung dan penambang,’’ ujarnya.

Karena meningkatnya gas beracun tersebut, para pendaki yang ingin menikmati blue fire pada malam harus gigit jari. Sebab, fenomena blue fire hanya bisa disaksikan pada malam. ’’Keberadaan gas beracun pada musim hujan saat ini juga memengaruhi tampilan blue fire. Beda saat musim kemarau, blue fire lebih terlihat indah,’’ jelas Eka.

Kendati begitu, dia memastikan status Gunung Ijen masih normal. Dia mengimbau masyarakat dan penambang yang melakukan pendakian pada malam agar mengurungkan niat mereka.

Sementara itu, seorang pendaki sempat memotret blue fire sebelum diberlakukan larangan pendakian. Saiful Bahri, pendaki asal Banyuwangi, naik puncak Ijen bersama empat kawannya. Mantan pekerja kapal pesiar di Belanda tersebut menikmati keindahan blue fire pada malam. ’’Waktu kita mendaki ke sana, belum begitu bahaya gas beracunnya. Sekarang gas beracunnya meningkat gara-gara curah hujan tinggi,’’ kata warga Jalan Rinjani, Kelurahan Singotrunan, Banyuwangi, itu. (tfs/c1/aif/JPNN/c19/dwi/dep)