Pegal Linu Seminggu pada Anak Tanda Bahaya

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU – Pijat memang terapi andalan bagi sebagian masyarakat ketika mengalami pegal-pegal. Penggemarnya tua dan muda. Meski demikian, tidak semua pegal butuh pijat. Bisa jadi, pegal merupakan alarm tanda bahaya. Khususnya terhadap anak-anak.

Dokter Mouli Edward SpOT(K) menuturkan, pegal linu pada anak-anak selama lebih dari seminggu tak boleh diabaikan. Apalagi asal pijat. Sebab, bisa jadi kondisi tersebut pertanda osteosarkoma. Itulah salah satu jenis kanker tulang. Selain linu berkepanjangan, osteosarkoma ditandai nyeri, bengkak, dan kerapuhan tulang.

’’Nyeri umumnya terjadi di ekstremitas (alat gerak) dekat sendi,’’ ujar dokter asal Semarang tersebut. Selain nyeri, biasanya penderita osteosarkoma akan mengalami pembengkakan pada daerah dekat persendian. Sayangnya, banyak yang salah paham mengenai nyeri dan bengkak itu.

Umumnya, orang tua baru menyadari gejala-gejala tersebut ketika anak mengeluh terbentur atau dijegal teman. Tak jarang, banyak yang datang dengan fraktur atau patah tulang. Mouli menegaskan, pasca terserang osteosarkoma, tulang akan rapuh. ’’Lebih jelasnya di hasil X-ray. Tulang tampak berserabut,’’ terang dokter yang berdinas di RSUD dr Soetomo tersebut.


Spesialis orthopaedi dan traumatologi itu menjelaskan, banyak orang yang cenderung memilih pijat ketika muncul pegal dan bengkak. ’’Padahal, tumor berpotensi makin berkembang kalau dipijat,’’ tuturnya. Pijatan akan menekan tumor sehingga sel-sel tersebut bakal berpindah ke tempat lain.

Lebih parah lagi jika si penderita membalurkan parem di lokasi bengkak tersebut. Pria kelahiran 9 Mei 1971 tersebut mencontohkan salah seorang pasiennya yang mengalami osteosarkoma di lengan atas. Selain terjadi peradangan, pada lengan pasien terdapat luka segar. Penyebabnya, pemakaian parem.

Parem, terutama yang dibuat dari herbal yang bersifat menghangatkan, bisa memperparah inflamasi (peradangan). Hal itu bisa berbahaya jika pembengkakan sudah parah atau parem kelewat sering dibalurkan. Radang akan semakin parah sehingga muncul luka atau rasa panas yang tidak nyaman.

Untuk penanganannya, osteosarkoma perlu beberapa tahap pemeriksaan. Pasien harus melewati pengecekan radiologi dan patologi. Kemudian, baru bisa ditentukan penanganan yang tepat. Selain itu, tahapan-tahapan tersebut digunakan untuk mengetahui staging tumor yang bersarang di tubuh pasien.

Semakin awal diketahui, semakin besar pula peluang anggota gerak pulih persis sediakala. Sayangnya, banyak yang datang terlambat. Bengkak sudah parah. Umumnya pasien telah menjalani pemijatan. ’’Kalau sudah di stadium IIB atau III, ketahanan lima tahun (five years survival rate) cuma di kisaran 60–70 persen,’’ ungkap Mouli.

Padahal, jika diketahui lebih awal, pasien bisa sembuh tanpa operasi atau rekonstruksi. Bahkan, fungsinya bisa menyerupai keadaan normal. (fam/c19/nda)