1 Tewas, Padang KLB Difteri

Ilustrasi, pembunuhan, anak bos ormas dibunuh
Ilustrasi

usai-kencan-dengan-wanita-ketua-kpu-boven-digul-tewas-di-hotel

POJOKSATU – Setelah Kota Padang dinyatakan kejadian luar biasa (KLB) difteri, kini Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel) dan Padangpariaman diminta mewaspadai penularan penyakit mematikan tersebut. Pasalnya dua daerah tersebut berdekatan dengan Kota Padang.

‘’Meminimalisir dampak penularan penyakit tersebut, pemerintah kota dan kabupaten diharapkan terus menggencarkan kegiatan imunisasi di tengah masyarakat,’’ kata Kepala Dinas Kesehatan Sumbar Rosnini Savitri di ruang kerjanya, Rabu (4/2).

Menurut Rosnini, kasus difteri di Sumbar hanya ditemukan di Kota Padang. Sedangkan kota dan kabupaten lainnya tidak ditemukan. Kendati begitu, dia meminta daerah yang berdekatan dengan Kota Padang, yakni Pessel dan Padangpariaman untuk waspada penyebaran penyakit ini.


Dia mengklaim setiap hari terus melakukan pemantauan kasus difteri tersebut di Kota Padang agar penularannya tidak meluas.  Tahun 2013 lalu, di Provinsi Jawa Timur ditemukan kasus difteri dengan jumlah ribuan orang. Dari balita hingga lansia diberikan vaksinasi untuk mencegah penularan penyakit ini.

Untuk mengantisipasi difteri, Dinas Kesehatan sudah menyiapkan vaksin yang akan diberikan kepada 250 ribu anak yang berusia dua bulan hingga 15 tahun.

‘’Anak-anak dengan umur 2 bulan hingga 15 tahun itu sangat rentan penyakit. Oleh sebab itu, mereka perlu diberikan vaksin. Memang tak mudah bagi kami untuk bisa segera menemukan 250 ribu anak tersebut. Kami berharap dukungan masyarakat untuk bisa bekerja sama,’’ harapnya. Seperti dilansir Riau Pos (Grup Pojoksatu.id) (5/1).

Rosnini menengarai kasus difteri di Kota Padang karena cakupan imunisasi di Kota Padang rendah. Bahkan Padang termasuk  salah satu kota paling rendah cakupan imunisasinya di Sumbar, yakni hanya 50-60 persen. Daerah lain seperti Kabupaten Kepulauan Mentawai cakupan imunisasinya juga rendah, tapi jumlah penduduknya tidak banyak dan tidak padat sehingga penyakit menular tidak terlalu banyak.

‘’Padang kan penduduknya rapat sekali. Sehingga, penularan satu penyakit sangat mudah sekali. Seperti difteri ini, sekarang sudah ditemukan enam kasus dengan satu orang meninggal dunia. Sedangkan tahun 2014 juga ditemukan sebanyak sembilan kasus difteri dengan dua orang meninggal,’’ bebernya.

Lebih lanjut diungkapkan Rosnini, tahun 2014 kasus difteri juga hanya ditemukan di Kota Padang. Dia mengklaim, saat kejadian 2014 lalu pihaknya bersama Pemko Padang sudah melakukan sejumlah antisipasi. Namun, tahun ini kasus tersebut muncul lagi dengan jumlah kasus tidak jauh berbeda.

‘’Dalam sebulan saja sudah enam kasus. Kalau tahun lalu, sembilan kasus dalam setahun. Bagaimana kita tak khawatir dibuatnya. Saya terus keliling memantau perkembangan penyakit ini,’’ tegasnya.

Menurutnya, anak yang tak diimunisasi akan lebih rentan terserang penyakit. Karena itu dia sangat menyayangkan orangtua yang enggan membawa anaknya untuk diimunisasi. Dia juga meminta agar persoalan halal dan haram soal vaksin tidak dijadikan alasan agar anak tidak diimunisasi.(ayu/eko/mng/dep)