Isi Sulosi Alternatif Atasi Banjir Jakarta

Ilustrasi
Banjir merendam jalan-jalan utama di Jakarta
Banjir merendam jalan-jalan utama di Jakarta

POJOKSATU – Seorang peneliti dari Sekolah Tinggi Ilmu Administrasi Mandala Indonesia (STIAMI) Bogor,  Asep Candra Hidayat, menawarkan sebuah konsep untuk mengatasi banjir di DKI Jakarta.

Seperti diketahui banjir merupakan fenomena rutin yang setiap tahun terjadi di wilayah Ibukota. Baik akibat curah hujan yang tinggi, pemanasan global, drainase yang buruk, pendangkalan sungai, kiriman air dari berbagai daerah di Jawa Barat serta pedatnya pemukiman yang mengakibatkan minimnya ruang terbuka untuk daerah resapan.

Melihat situasi tersebut, Asep Candra mengusulkan pada Pemda DKI untuk menyedot genangan banjir dengan pipa-pipa yang terkoneksi dengan sebuah mesin penyedot untuk kemudian membuangnya ke laut.

Namun, ada beberapa wilayah di DKI Jakarta yang memiliki potensi banjir tapi jauh dari laut, seperti di Jakarta Selatan, sehingga konsep sulit dijalankan. Jika dibuang ke sungai, tingkat kedalaman sungai di Jakarta relatif dangkal dan ini akan percuma.


Asep Candra menjelaskan jarak bukanlah alasan untuk Jakarta bebas banjir. “Jika banjir terus dibiarkan, saya prediksi dalam 50 tahun ke depan Jakarta akan lumpuh total,” terangnya saat berkunjung Graha Pena Radar Bogor, Rabu (4/2/2015).

Lulusan Perikanan Institut Pertanian Bogor (IPB) ini juga mengatakan jika Pemkot DKI menerima usulan yang diajukannya, ia memprediksi DKI bisa menghemat anggaran 2,5 hingga 5 persen dari anggaran Pemkot DKI untuk mengatasi banjir. Namun ia belum bisa memperkirakan biaya yang dibutuhkan untuk membuat mesin penyedot ini.

Menurutnya, upaya Pemkot DKI dengan membuat sumur resapan, pengerukan sungai hingga merelokasi penduduk di bantaran sungai ke rumah susun terlalu banyak menghabiskan waktu dan biaya. Hal itu juga tidak menjamin Jakarta bebas banjir.

Maka dari itu, pria kelahiran Garut ini berharap, konsep yang bakal diajukan kepada Gubernur DKI Jakarta, Basuki Tjahja Purnama (Ahok) bisa direalisasikan. Sebelumnya ia pernah mengajukan konsep yang sama pada era pemerintahan Gubernur Joko Widodo (Jokowi) namun tidak ada tindak lanjut dari konsep tersebut.

Kepala Bagian (Kabag) Akedemik di STIAMI itu telah mengamati dan meneliti fenomena banjir di Jakarta selama dua tahun sebelum akhirnya menemukan konsep yang diusungnya sekarang ini.

“Sebagai warga negara Indonesia, saya prihatin kepada warga Jakarta setiap tahun harus merasakan banjir, sudah sangat banyak kerugian yang dialami warga Jakarta akibat dampak banjir. Saya hanya bisa menyumbang ilmu yang saya bisa bantu mengatasi banjir di ibukota,” tuturnya.

Ia juga mengatakan untuk mencegah yang seringkali disebut banjir kiriman dari Bogor, Pemerintah seharusnya bisa mengalihkan aliran sungai-sungai dari Bogor menuju Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB) sebelum sungai yang ada di Jakarta tidak sanggup menampung debit air dari Bogor yang tinggi. Namun, lanjutnya, itu juga tidak menjamin Jakarta bebas banjir, karena Jakarta juga memiliki curah hujan yang cukup tinggi.

“Caranya ya disedot dan dibuang ke laut. Karena daratan DKI sendiri sudah rendah jadi tidak bisa mengalirkan air.,” tutupnya.

Ia berharap dengan bergantinya rezim pemerintahan DKI dari Jokowi ke Ahok bisa merealisasikan konsep yang ia namakan Pipa Hisap Terkoneksi untuk diterapkan mengatasi banjir di Ibukota. (cr1)