Ini Cara Sekolah Hadapi SNMPTN

UN 2015
Foto Ilustrasi. (Dok. JPNN)

POJOKSATU – Tes bakat bukan satu-satunya cara untuk mengetahui potensi siswa yang akan masuk bangku kuliah. Ada banyak cara yang bisa dilakukan tanpa harus memungut iuran dari wali murid.

SMAN 7 menjadi salah satu sekolah yang tidak menarik biaya apa pun kepada siswa. Guru bimbingan konseling (BK) SMAN 7 Siswo Yunarso mengatakan, sekolahnya memang tidak pernah mengadakan tes bakat minat untuk mengetahui potensi siswa menjelang seleksi nasional masuk perguruan tinggi negeri (SNM PTN). ’’Pernah kami tawarkan saat pertemuan dengan wali murid. Ada yang setuju, ada yang tidak,’’ papar Siswo.

Sebenarnya sebagian besar wali murid setuju meski harus ditarik biaya. Namun, karena ada yang tidak setuju, rencana tersebut akhirnya dibatalkan. Selama tujuh tahun menjadi guru BK di SMAN 7, Siswo mengamati perilaku orang tua. Menurut dia, semakin lama orang tua tidak otoriter. Mereka memberikan kebebasan kepada anak-anak untuk memilih jurusan kuliah. Karena itu, orang tua membutuhkan pedoman untuk membantu anak memilih jurusan. Tes bakat sebenarnya bisa membantu orang tua.

Meski begitu, SMAN 7 memiliki metode lain. Yakni, membuat angket pemilihan jurusan. Setiap Desember, kertas angket itu dibagikan kepada semua siswa. Angket tersebut berisi identitas siswa dan dua jurusan perguruan tinggi negeri (PTN) yang ingin dipilih. Angket itu dibubuhi kolom tanda tangan orang tua siswa sebagai tanda mengetahui. ’’Sejak kelas X, siswa diarahkan agar mulai memikirkan jurusan. Naik kelas XII, pendampingan makin intens karena kami menyadari tidak ada tes bakat,’’ ucap Siswo.


Lain lagi dengan SMAN 11. Sekolah di Surabaya Barat tersebut terbiasa mengadakan tes bakat minat. Waka Kesiswaan SMAN 11 Yohannes Willem mengatakan, tes tersebut sudah dihelat pada November 2014. Setiap siswa ditarik iuran. ’’Saya lupa nominalnya berapa, tapi yang penting orang tua tidak masalah,’’ ucap pria yang akrab disapa Billy tersebut. Namun, setelah muncul dugaan pungutan liar di salah satu SMA pada awal Januari lalu, Billy menyadari tidak bisa menarik iuran lagi. ’’Ke depannya bagaimana, ini masih dipikirkan. Kami masih wait and see,’’ imbuhnya.

Sementara itu, tidak semua sekolah menghapus tes bakat minat. Di SMAN 1 Surabaya, tes tersebut masih berjalan. Kepala SMAN 1 Surabaya YohanesMardijono mengungkapkan, dana untuk tes bakat diambilkan dari bantuan operasional sekolah (BOS). Dengan begitu, siswa tidak perlu ditarik biaya. ’’Memang, tidak semua sekolah menganggarkan,’’ ucap mantan kepala SMAN 3 tersebut. Menurut Yohanes, tes bakat minat yang dilaksanakan di SMAN 1 ada sejak lama. Tepatnya, sejak dia dimutasi ke SMAN 1.

Ketua Dewan Pendidikan Surabaya Martadi menambahkan, bila orang tua dan siswa merasa tes bakat memiliki hasil efektif, sebaiknya komite sekolah yang mengadakan kegiatan tersebut. ’’Yang menarik iuran komite sekolah sebagai inisiator, guru hanya mendukung kegiatan,’’ ucapnya.

Menurut dia, sekolah juga bisa menganggarkan tes bakat minat lewat dana BOS. Namun, Martadi memahami, setiap sekolah mempunyai kebutuhan berbeda-beda. Ada sekolah negeri yang fasilitasnya sudah mumpuni sehingga bisa mengalokasikan dana BOS untuk tes bakat. Namun, tidak sedikit sekolah negeri yang masih mencoba survive dengan dana BOS dan bantuan operasional daerah (bopda). ’’Kalau belum bisa ambil dari BOS, komite sekolahnya yang harus aktif,’’ tegasnya.

Martadi berpesan agar momen tersebut tidak mengurangi kualitas pelayanan pendidikan. Artinya, sekolah dan wali murid harus sering berkomunikasi untuk tetap memberikan solusi terhadap problem pendidikan. ’’Anak-anak jangan dijadikan korban. Itu intinya,’’ tegasnya.

Sementara itu, SMAN 20 Surabaya setiap tahun juga mengadakan tes potensi akademik (TPA). Wakil Kepala Kurikulum SMAN 20 Supratman menjelaskan, pihaknya bekerja sama dengan lembaga bimbingan belajar untuk melaksanakan tes minat bakat itu. Meski demikian, dia menekankan bahwa TPA tersebut hanya untuk para siswa yang mau ikut. ’’Jadi, tidak semua,’’ jelasnya.

Pihak sekolah tidak memungut biaya apa pun dalam tes itu. ’’Nanti kalau kami tarik bayaran, dikira ada indikasi pungli,’’ katanya. Dia menyatakan, Maret nanti sekolahnya mengadakan tes minat bakat yang bekerja sama dengan lembaga psikologi.

Hal serupa juga terjadi di SMAN 18. Sekolah tersebut juga tetap mengadakan tes minat bakat. ’’Desember lalu baru kami selenggarakan dengan salah satu lembaga bimbingan belajar di Surabaya,’’ kata Suci Lestari, kepala humas SMAN 18.

Menurut dia, tes minat bakat tersebut diikuti seluruh siswa. Sekolah juga mengimbau anak didiknya untuk selalu mengonsultasikan pemilihan jurusan kuliah dengan guru bimbingan konseling (BK). (ina/sti/c5/c7/oni/zul)