Hentikan Tes Bakat, Bingung Tentukan SNMPTN

INTIP VERIFIKASI: Setelah berkonsultasi soal jurusan kuliah untuk anaknya, Aris Masduki sekalian melihat proses pengisian PDSS. (Dinda Lisna Amilia/Jawa Pos)
INTIP VERIFIKASI: Setelah berkonsultasi soal jurusan kuliah untuk anaknya, Aris Masduki sekalian melihat proses pengisian PDSS. (Dinda Lisna Amilia/Jawa Pos)

POJOKSATU – Kebijakan dinas pendidikan (dispendik) yang melarang sekolah memungut biaya apa pun kepada siswa mulai membawa dampak. Kini banyak sekolah menghentikan semua kegiatan yang didanai siswa. Salah satunya adalah tes untuk mengetahui potensi dan bakat siswa. Padahal, tes tersebut penting untuk menentukan jurusan yang akan dipilih siswa di bangku kuliah.

Menjelang Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNM PTN), biasanya sekolah-sekolah mengadakan ujian yang mirip tes potensi akademik (TPA). Pada tahun-tahun sebelumnya, sekolah menarik iuran dari siswa. Jumlahnya biasanya tidak lebih dari Rp 50 ribu per anak. Namun, setelah dispendik melarang sekolah menarik iuran apa pun, kegiatan itu otomatis terhenti. Sekolah-sekolah takut dituding melakukan pungutan liar (pungli).

Salah satu yang menghentikan tes tersebut adalah SMAN 12. Menurut guru bimbingan konseling (BK) SMAN 12 Surabaya Siswoko, pembatalan tes bakat minat siswa itu merujuk pada surat edaran wali kota mengenai pungutan liar (pungli) yang sempat heboh beberapa waktu lalu. Sebelum surat edaran tersebut muncul, SMAN 12 sudah melakukan tes itu selama empat tahun berturut-turut. ’’Biasanya, kami mengadakan yang namanya differential aptitude tests (DAT) untuk mengetahui potensi siswa ada di jurusan mana. Tahun lalu kami tarik Rp 50 ribu,’’ ucap pria yang akrab disapa Sis tersebut.

Meski ada iuran itu, selama ini Sis tidak pernah mendapat komplain dari orang tua siswa. Malah, hasilnya lebih efektif. Sebab, siswa dan orang tua tidak bingung lagi dengan pilihan jurusan.


Salah seorang orang tua yang kini merasa bingung dengan pemilihan jurusan anaknya tersebut adalah Aris Masduki. Ibunda dari Nadia Ristika, siswi kelas XII IPA 8 di SMAN 12 itu, benar-benar bingung dan tidak mempunyai pandangan mengenai jurusan yang harus dipilih anaknya. ’’Saya tanya dia, katanya juga bingung. Dulu dia sukanya biologi, tapi sekarang tidak tahu sukanya apa,’’ ungkap Aris.

Sebagai orang tua, Aris ingin Nadia memilih jurusan sesuai potensi atau minatnya. Apalagi Nadia tergolong anak yang pintar. Dia menduduki peringkat kedua di kelasnya yang merupakan kelas unggulan. Aris sebenarnya ingin sekolah mengadakan tes untuk melihat kemampuan putrinya. Tetapi, dia paham bahwa hal itu tidak bisa lagi dilakukan sekolah. ’’Sebenarnya bisa pergi ke psikolog sendiri, tapi biayanya lebih murah tes bareng-bareng,’’ katanya. Karena itu, yang bisa dilakukan Aris hanyalah berkoordinasi dengan guru-guru Nadia untuk mengetahui potensi anaknya. (ina/c20/oni/zul)