Duh, Dishub Aniaya Sopir Angkot

Ilustrasi
penganiayaan
Ilustrasi

POJOKSATU – Asep Suhendar (29), sopir angkutan kota trayek 02B diduga menjadi korban kekerasan dari oknum petugas Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Cianjur di Terminal Pasirhayam, Kecamatan Cilaku, Cianjur, Senin (2/1) ketika akan bermaksud akan menyampaikan aspirasi teman-temannya.

Peristiwa kekerasan yang menimpa Asep itu bermula saat dirinya bermaksud menghentikan angkot rekan-rekan seprofesinya untuk menyampaikan aspirasi ke kepala terminal. Namun, tanpa ia nyana, tiba-tiba seorang oknum petugas terminal Pasirhayam berinisial W langsung menggusurnya ke dalam kantor terminal.
“Saat tengah memberhentikan angkot 02B, saya tiba-tiba digusur ke dalam kantor. Tanpa ampun saya langsung ditendang oleh oknum petugas itu,” kata Asep, ditemui di Terminal Pasirhayam.

Meski mendapatkan tendangan, Asep mengaku tidak tahu persis alasan dan kenapa oknum petugas berinisial W itu langsung menarik dirinya ke dalam kantor dan memukulinya. Hanya saja, W sempat menanyakan alasan Asep menghentikan sopir angkot 02B di halaman terminal saat itu.
“Padahal kita datang itu hanya ingin menyampaikan aspirasi saja,” ujar Asep.

Pengurus angkot 02B, Iwan Mulyawan yang mengetahui tentang dugaan tindakan penganiayaan terhadap salah satu anggotanya di Terminal Pasirhayam itu mengaku tidak terima atas tindakan oknum petugas terminal yang telah melakukan tindak kekerasan.


Seharusnya, lanjut Iwan, petugas tersebut tidak langsung berbuat semena-mena dan langsung memukuli Asep. Selain itu, jika memang ada hal lain yang dianggap tidak benar, pihak petugas pun bisa menanyakan dan menegur dengan cara baik-baik.

Atas hal itu, Iwan berencana akan melaporkan perbuatan oknum petugas itu agar diproses secara hukum. Pasalnya, niat mereka adalah untuk menyampaikan aspirasi dengan baik-baik pula.

“Jelas kami tidak terima atas perbuatan oknum petugas terminal itu. Tanpa sebab yang jelas melakukan pemukulan. Kami akan meminta pertanggungjawabannya. Kami ini kan datang ingin menyampaikan aspirasi. Seharusnya bisa dibilang secara baik- baik. Jangan semena-mena
kepada sopir,” jelas Iwan.

Dikatakan Iwan, awalnya para sopir 02B hanya ingin menuntut keadilan kepada Dishubkominfo atas ketidakadilan yang diterima mengenai trayek. Menurutnya, angkot 02B selama ini seringkali dikenai tilang saat mengarah ke Pasir Sembung. Sedangkan angkot 02A tidak dikenakan tilang.

“Dulu trayek 02B dari Pemkab Cianjur itu bisa sampai ke Pasir Sembung. Tapi sekarang tidak boleh lagi. Itupun tanpa pemberitahuan. Sedangkan jurusan 02A kok malah diperbolehkan. Akhirnya hal inilah yang menjadi kecemburuan,” papar Iwan.

Iwan menuding ada unsur permainan di Dishbkominfo yang memperbolehkan angkota 02A sampai ke Pasir Sembung. Atas dasar itulah pihaknya akan mempertanyakan agar tidak terjadi konflik di lapangan akibat kecemburuan di antara para sopir.
“Kalau kami dilarang mengarah ke Pasir Sembung, sudah seharusnya angkot 02A juga dilarang. Faktanya, mereka diperbolehkan tapi kami yang dilarang,” lanjut dia.

Kepala Bidang (Kabid) Angkutan Dinas Perhubungan Komunikasi dan Informatika (Dishubkominfo) Kabupaten Cianjur, Afif Darmawan mengaku, belum tahu mengenai aksi kekerasan yang diduga dilakukan oknum petugas Terminal Pasirhayam terhadap salah seorang sopir angkot 02B.

Kendati demikian pihaknya berjanji akan menindak tegas bawahannya jika memang benar terbukti melakukan tindakan kekerasan kepada sopir. Apalagi, kata Afif, sopir itu hanya bermaksud ingin menyampaikan aspirasinya.

“Memang saya belum mendapat laporan resminya. Kalau tindakan kekerasan itu benar dilakukan, kami akan segera laporkan ke pimpinan. Oknum petugas itu akan segera kami lakukan pembinaan,” tegasnya ketika ditemui di kantor Dishubkominfo Kabupaten Cianjur, di Jalan Raya Bandung, Muka, Cianjur.

Berkenaan dengan pembagian trayek yang dikeluhkan para sopir, pada kesempatan itu, Afif pun mengatakan, berdasarkan peraturan daerah (Perda) Nomor 9 mengenai trayek, angkot 02B memang ditentukan hanya sampai di terminal Pasirhayam dan tidak sampai ke Pasir Sembung.

“Kebijakan yang kami lakukan tidak lain sebagai upaya penataan terminal Pasirhayam supaya berfungsi sebagaimana mestinya. Kita memiliki kewenangan itu di terminal. Kalau di luar itu kewenangan instansi lain,” kata Afif.

Meski aturan Perda sudah mengatur dengan jelas bahwa angkot 0 B trayeknya hanya sampai di terminal Pasirhayam, pihaknya tetap akan menampung aspirasi para sopir angkot 02B. Aspirasi tersebut akan dikaji di tingkat forum lalu-lintas terlebih dahulu agar selaras dengan penataan terminal dan jaringan angkutan umum (angkum) yang tengah dilaksanakan.

“Kita inginkan terminal Pasirhayam itu bisa berfungsi sebagaimana layaknya terminal yakni menjadi tempat naik dan turun para penumpang. Untuk itulah makanya kita melibatkan unsur kepolisian dan lainya,” pungkas Afif. (ruh/dep)