Ini Cara Napi Kendalikan Peredaran Narkoba dari Penjara

Foto Ilustrasi. (Dok. Jawa Pos)
Foto Ilustrasi. (Dok. Jawa Pos)
Foto Ilustrasi. (Dok. Jawa Pos)

POJOKSATU – Tidak sedikit pengedar yang masih beroperasi kendati sedang menjalani hukuman di balik penjara. Badan Narkotika Nasional (BNN) mendeteksi, sekitar 60 persen peredaran narkoba di Indonesia ternyata dikendalikan dari balik hotel prodeo.

Humas BNN Slamet Pribadi menjelaskan, angka 60 persen itu diperoleh berdasar hasil pemantauan saat ini. ”Ini hasil investigasi dan survei kami,” terangnya.

Cara pengendalian penjualan narkoba setiap pengedar hampir sama. Dengan menggunakan alat komunikasi, pengedar menghubungi setiap jaringannya. Mulai kurir hingga bos narkoba. ”Kami berupaya mengungkap peredaran narkotik dari hulu hingga hilir,” ujarnya Minggu (1/2).

Yang lebih mengkhawatirkan, sebenarnya penjara juga menjadi tempat perekrutan bagi pengedar baru narkoba. Salah satu modusnya, pengedar lama menjerat para pengguna narkoba yang lagi meringkuk di tahanan. Pengedar tersebut memberikan bantuan uang kepada pengguna itu. Lalu, setelah bebas, pengguna tersebut menjadi kaki tangan pengedar yang masih berada di dalam penjara. ”Ya, dijerat dengan utang begitu,” jelasnya.


Ada juga cara lain yang baru terungkap. Yaitu, pengedar yang memiliki alat komunikasi (HP) berkenalan dengan orang lain melalui media sosial. Kenalan tersebut dimintai bantuan untuk mengedarkan narkoba. ”Semua ini harus dihentikan,” tegasnya.

Pengedar yang masih mengendalikan peredaran narkoba itu menyebar hampir di semua penjara Indonesia. BNN belum bisa mengungkapkan penjara mana saja yang terpidananya masih menjalankan bisnis haram tersebut. ”Belum bisa disebut. Sebab, berhubungan dengan penyelidikan,” jelasnya.

Kalau penjaranya diungkap, tentu para pengedar di balik penjara lebih waspada dan bisa menghilangkan bukti-bukti yang sudah diketahui BNN. Yang jelas, jumlah penjara se-Indonesia sekitar 365. ”Dalam waktu dekat, BNN akan mengungkap semuanya satu per satu,” tambah dia.

Dia menerangkan, BNN tidak sendirian dalam mengungkap pengedar narkoba dari balik penjara. Banyak sipir yang membantu dengan memberikan informasi. ”Tentunya para sipir ini yang benar-benar mengetahui kondisi di dalam penjara,” ucap dia.

Sementara itu, Kepala BNN Komjen Anang Iskandar menuturkan, para pengedar juga memandang bahwa penjara merupakan tempat bisnis yang menggiurkan. Sebab, para pengguna sudah jelas ada di sana. ”Makanya, penjara itu juga disasar untuk bisnis mereka,” kata dia.

Pernah suatu kali di salah satu penjara di Jakarta terdapat kepala lapas yang sangat protektif dan tegas. Narkoba tidak bisa beredar di lapas tersebut. Hasilnya, suatu kali ada 150 napi kasus narkoba yang sakau atau ketagihan. ”Tentu membuat penjara itu menjadi sangat gaduh. Sedemikian beratnya upaya menghentikan peredaran narkotik,” paparnya.

Karena itu, lanjut dia, perlu juga membedakan pengguna yang perlu direhabilitasi dan pengedar yang harus benar-benar dibui. ”Kalau semua disamakan harus masuk penjara, hasilnya ya seperti ini. Mengerikan,” terangnya.

Di tempat terpisah, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Tedjo Edhy Purdijatno menegaskan, eksekusi terpidana mati yang masih menjalankan bisnis hitam tentu lebih baik dipercepat. Apalagi kalau grasinya sudah dipastikan ditolak Presiden Jokowi. ”Tentu saya berharap jaksa agung bisa mempercepat eksekusi mati untuk yang tidak jera ini,” ucap dia.  (idr/c11/end/zul)