Pendaftaran Haji Dihentikan Tahun Ini, Mengapa?

ilustrasi

 

POJOKSATU – Solusi mengenai problem lamanya antrean keberangkatan ibadah haji bagi calon jamaah di Surabaya dan sekitarnya kini dicari. Komisi VIII DPR memutuskan untuk membentuk panitia kerja (panja) terkait dengan perubahan sistem haji.

Salah satu rencana yang sedang disiapkan adalah penghentian pendaftaran haji selama setahun. Rencana penghentian pendaftaran tersebut terkait dengan proses verifikasi data jamaah haji yang pernah berangkat.

Hasil verifikasi itu, para pendaftar yang pernah berhaji harus dicoret serta diganti pendaftar yang belum pernah dan lansia. ’’Saat ini panja menggodok opsi itu. Ini sebagai salah satu solusi untuk mengatasi lamanya antrean haji,’’ ujar anggota Komisi VIII DPR Hasan Aminuddin Sabtu (31/1).


Di Surabaya-Sidoarjo-Gresik, misalnya, pendaftar haji harus sabar menunggu esktralama. Pendaftar tahun ini, contohnya, akan berangkat pada 2032. Munculnya usulan itu, kata Hasan, tidak lepas dari banyaknya jumlah pendaftar haji yang notabene pernah berangkat ke Tanah Suci lebih dari sekali. Hanya, dari hasil rapat dengan Kementerian Agama (Kemenag), hingga kini belum ada database berisi nama jamaah yang berhaji lebih dari sekali.

Dari penghentian itulah, nanti Kemenag ditarget memverifikasi database jamaah haji. ’’Nah, sisa kursi hasil pencoretan itu didistribusikan untuk jamaah yang belum pernah mendaftar atau bagi para lansia,’’ terang Hasan.

 

Semakin lamanya waktu berangkat haji tidak lepas dari pemotongan kuota calon jamaah haji (CJH) di Jatim. Dari total jatah Jatim sejak 2012 sebanyak 33.985 jamaah, kini menyusut hanya 27 ribu jamaah per tahun. Alhasil, mereka yang daftar tahun ini diestimasi berangkat pada 2032.

Kondisi tersebut ditambah dengan membeludaknya pendaftar. Di Surabaya, tahun ini ada tambahan 2.500 pendaftar baru. Demikian juga di Gresik. Pada 2012 mendapat kuota 1.900, namun berkurang tinggal 1.400–1.500. Kondisi nyaris sama terjadi di Sidoarjo.

Gara-gara problem itu, tidak sedikit di antara jamaah yang memilih untuk berangkat umrah. ’’Namun, bagi yang secara ekonomi pas-pasan, kami hanya bisa bersabar. Semoga nanti bisa ada solusi,’’ kata Sutarsih, CJH asal Surabaya yang diproyeksikan berangkat pada 2019.  (ris/c19/git/zul)