Selamatkan Jakarta, Cewek Bogor Bikin Lubang

Belasan perempuan Bogor menggali lubang biopori di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Sabtu (31/1/2015). Foto Rangga/Pojoksatu.id
Belasan perempuan Bogor menggali lubang biopori di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Sabtu (31/1/2015). Foto Rangga/Pojoksatu.id
Belasan perempuan Bogor menggali lubang biopori di Jalan KH Abdullah bin Nuh, Sabtu (31/1/2015). Foto Rangga/Pojoksatu.id

POJOKSATU – Warga Kota Bogor ramai-ramai membuat lubang resapan biopori (LRB) di Jalan KH Abdullan bin Nuh, Kota Bogor, Sabtu (31/1/2015) pagi.

Puluhan perempuan bersama TNI, Karang Taruan, KNPI tampak menggali lubang kecil di pinggir jalan, tepatnya di depan Gedung Graha Penda Radar Bogor. Kegiatan ini merupakan bagian dari gerakan pembuatan lima juta lubang biopori di Bogor.

Ketua Panitia Pelaksana, Gatut Susanta mengatakan, gerakan pembuatan lima juta biopori merupakan langkah kongkrit untuk melestarikan lingkungan. Selain itu, biopori juga menjadi solusi alternatif mengatasi banjir Jakarta yang selama ini dikaitkan dengan kiriman banjir dari Bogor.

“Ini baru tahap  awal. Kita sudah membuat 250 lubang biopori. Gerakan ini akan menyasar perumahan, kampus, jalan-jalan utama, hingga jalan tol,” ujar mantan Wakil Ketua DPRD Kota Bogor ini.


“Kita akan bersama-sama membuat 5 juta lubang biopori di Bogor. Kita sudah mulai hari ini, dan di bulan Februari kita semua (warga Bogor) akan berjuang penuh menyelamatkan Bogor dengan biopori,” pungkasnya.

Penemu LRB, Kamir R. Brata mengaku bangga atas antusias dari pihak swasta, unsur TNI, pemuda dan warga Kota Bogor menyukseskan gerakan pembuatan lubang biopori.

“Saya bangga melihat antusiasme warga Bogor yang mau bekerja sama dalam pemulihan lingkungan di kota ini. Setiap orang harusnya bangga melakukan sesuatu yang berkaitan dengan pelestarian lingkungan. Karena semua harus dimulai dari diri sendiri untuk semua orang,” ujar akdemisi dari IPB itu.

Menurut dia, biopori akan menjadi satu dari banyak alternatif mencegah banjir Jakarta. Seperti yang diketahui debit air yang tinggi berasal dari Bogor mengalir ke Jakarta setiap harinya, terutama di saat musim hujan. LRB berumur jauh lebih panjang daripada sumur-sumur resapan yang sudah ada.

Lubang ini, kata dia, akan terus menerus menyalurkan air curahan hujan ke dalam tanah, sedangkan sumur resapan akan berhenti menyerap air ketika kapasitas dari sumur itu sendiri sudah penuh.

Kamir menambahkan lubang biopori harus dilengkapi dengan alur, sehingga air hujan yang turun akan secara otomatis mengalir ke lubang tersebut. (cr2)