Polda Amankan Ratusan Kerangka Satwa Siap Jual

BARANG BUKTI: AKBP Maruli Siahaan (kanan) dan Kombespol Awi Setiyono menunjukkan beberapa contoh kerangka satwa yang diawetkan.
BARANG BUKTI: AKBP Maruli Siahaan (kanan) dan Kombespol Awi Setiyono menunjukkan beberapa contoh kerangka satwa yang diawetkan.
BARANG BUKTI: AKBP Maruli Siahaan (kanan) dan Kombespol Awi Setiyono menunjukkan beberapa contoh kerangka satwa yang diawetkan.

POJOKSATU-Polda Jatim berhasil mengungkap pengekspor kerangka satwa langka ke sejumlah negara Eropa. Ratusan kerangka satwa siap kirim pun disita. Kasus tersebut dibongkar anggota Unit I Subdit IV Tindak Pidana Tertentu Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Jatim. Polisi mengamankan Basuki Ongko Raharjo, warga Jalan Simpang Dieng I No 23, Malang. Dia ditetapkan sebagai tersangka pengekspor ilegal satwa dilindungi.

Kabidhumas Polda Jatim Kombespol Awi Setiyono mengatakan, rumah tersangka tersebut digerebek menyusul adanya informasi dari Metropolitan Police Wildlife Crime Unit di Inggris. ”Dari informasi, ada perdagangan spesies dilindungi yang diawetkan,” katanya.

Berdasar data yang diterimanya, polisi akhirnya menemukan sebuah rumah yang diduga menjadi gudang satwa. Bentuknya bangunan dua lantai. Sekilas, tidak ada yang berbeda dari rumah kebanyakan. Lantai 1 digunakan sebagai usaha konfeksi. Lantai 2 digunakan untuk tempat tinggal.

Ketika rumah tersebut digerebek, ternyata di dalamnya terdapat banyak aneka satwa yang sudah diawetkan. Antara lain, kerangka burung paruh merah (85 buah), kepala paruh merah (100), kerangka paruh merah berbulu (30), kerangka paruh hitam (10), dan kepala paruh hitam (90).


Ada juga bulu merak (63), kerang trompet (5), sigung (9), nautilus (1), kucing hutan (1), kerangka kancil (1), kepala rusa (1), dan penyu (1). Sebagian besar barang tersebut bergeletakan di ruang utama di lantai 2 rumah itu.

Di rumah tersebut polisi menemukan 15 nota pengiriman aneka satwa ke sejumlah kota dunia. Antara lain, Alaska, Miami, New York, San Francisco, dan London. ”Bisa jadi ada negara tujuan lainnya yang belum terungkap,” kata Awi.

Tersangka mengaku, pengiriman kerangka satwa ke luar negeri dilakoni sejak 2006. Tapi, Awi menduga praktik tersebut sudah berjalan lebih dari itu. Sampai kemarin sore, tersangka belum mau membuka semua yang terkait dengan jaringan perdagangan gelap satwa dilindungi yang diawetkan.

Awi mengatakan, satwa-satwa itu sangat diminati di luar negeri sebagai hiasan. Mantan Kapolres Magetan tersebut menyatakan belum mengetahui persis harga per item. Tapi, berdasar pengakuan sementara, nilai perdagangan tersangka ke luar negeri mencapai miliaran rupiah.

Kasubdit Tindak Pidana Tertentu AKBP Maruli Siahaan menambahkan, berdasar pemeriksaan sementara, satwa yang diawetkan itu diperoleh tersangka dari sejumlah daerah. Yaitu, Bali, Jawa Tengah, Banyuwangi, dan sejumlah daerah lain. ”Kami masih belum bisa memastikan soal ini. Karena ada beberapa keterangan yang janggal,” ucapnya.

Misalnya, daerah yang disebutkan itu bukanlah kawasan asal satwa tersebut. Polisi menduga, daerah tersebut bisa jadi tempat transit atau pengolahan sebelum dikirim ke tersangka. ”Tersangka menerima satwa sudah dalam kondisi diawetkan,” jelas Maruli.

Tersangka menawarkan dagangannya melalui situs-situs belanja online seperti eBay. Dari sanalah, tersangka berkomunikasi dengan pembelinya yang berasal dari berbagai negara. Diperkirakan tersangka sudah memiliki sejumlah pelanggan tetap. ”Kalau harga cocok dan dibayar, barang baru dikirim,” jelasnya.

Saat penggerebekan, polisi menemukan tujuh paket yang berisi kerangka aneka satwa yang sudah siap dikirim ke sejumlah negara. Jika kemarin polisi tidak bergerak, bisa jadi paket-paket itu sudah terbang ke negara tujuan.

Maruli mengatakan, selama ini pengiriman selalu lolos karena kelihaian tersangka dalam mengemas satwa awetan tersebut. Dalam notifikasi pengiriman disebutkan bahwa paket tersebut berisi kerajinan tangan. ”Kami masih mengembangkan temuan ini,” jelasnya.

Tersangka dalam mengirim paket menggunakan berbagai cara. Salah satunya via pos yang dikirim langsung ke alamat pembeli. Tapi, petugas meyakini tersangka juga memanfaatkan jalur transportasi laut melewati Surabaya.

Untuk sementara, polisi menjeratkan dua pasal sekaligus. Yakni, pasal 21 ayat 2 b dan d Undang-Undang No 5 Tahun 1990 tentang Konservasi Sumber Daya Alam Hayati dan Ekosistem. Inti pasal tersebut adalah setiap orang dilarang menyimpan, memiliki, mengangkut, dan memperniagakan satwa yang dilindungi dalam keadaan mati.

Juga, setiap orang dilarang memperniagakan, menyimpan, memiliki kulit, tubuh, atau bagian lain satwa yang dilindungi atau mengeluarkan dari suatu tempat di Indonesia ke tempat lain. Ancaman hukuman dua pasal tersebut adalah pidana kurungan maksimal lima tahun penjara dan denda paling banyak Rp 100 juta. (eko/c10/ayi/dep)