KMP-Jokowi Mesra, Kubu Agung Laksono?

Agung Laksono (kanan) Istimewa
Agung Laksono (kanan) Istimewa
Agung Laksono (kanan) Istimewa

POJOKSATU – Direktur Eksekutif PolcoMM Institute, Heri Budianto menegaskan polemik dualisme di tubuh Partai Golkar yang masih belum ada penyelesaiannya membuat partai beringin itu terombang-ambing dalam situasi politik saat ini. Penyelesaian dualisme Golkar yang belum tuntas akan sangat menentukan nasib partai urutan dua pemenang pemilihan umum 2014 itu di momen-momen politik 2015.

“Momen paling penting adalah Pilkada serentak. Jika tidak segera tuntas, maka Golkar akan gigit jari di pilkada,” kata Heri, Sabtu (31/1).

Mestinya, elite Golkar mengedepankan kepentingan partai dan segera menyelesaikan persoalan.

Khususnya Ical dan Agung Laksano, kata dia, tidak boleh saling sandera yang kemudian merugikan golkar secara keseluruhan.


“Kasihan DPD I dan II yang menunggu situasi DPP kondusif,” katanya.

Dia pun menilai situasi politik saat ini di mana Presiden Joko Widodo bertemu Prabowo Subianto dan direncanakan akan berlanjut memang akan menguatkan Golkar pimpinan Ical. Kalau dilihat dari situasi politik saat ini Golkar Bali menguat posisinya dan memegang kendali secara politik.

“ARB menguat, sebab posisi tawarnya pada Presiden Jokowi dan pemerintah menjadi sangat kuat,” ungkap dia.

Hal itu disebabkan oleh kepentingan Jokowi terhadap Koalisi Merah Putih dalam menggolkan keinginan politik Jokowi membatalkan pelantikan Kapolri. Memang situasi cepat berubah, pertanyaannya jika suasana sudah seperti ini, apakah ARB akan bernegosiasi dengan Agung? Memang sulit dijawab, dan jika dilihat dari ego politik maka akan semakin jauh rekonsiliasi itu akan terjadi.

“ARB memegang kunci saat ini, posisi Agung tidak menguntungkan. Sekarang kepiawaian ARB memainkan situasi ini akan diuji,” katanya.(boy/jpnn/ril)