Ribuan Warga Australia Protes Hukuman Mati di Indonesia

Warga Australia menyalakan lilin sambil berdoa untuk keselamatan "Bali Nine"
Warga Australia menyalakan lilin sambil berdoa untuk keselamatan "Bali Nine"
Warga Australia menyalakan lilin sambil berdoa untuk keselamatan “Bali Nine”

POJOKSATU – Lebih dari dua ribu warga Australia, berkumpul di Sydney Kamis (29/1/2015) malam waktu setempat. Mereka berdoa bersama untuk keselamatan dua narapidana narkoba asal Australia yang mendapat hukuman mati di Indonesia.

Sambil memegang lilin dan poster bertuliskan “Aku memohon belas kasihan”, mereka mendengarkan pidato dan musik live di Martin Place, jantung Kota Sydney untuk menunjukkan dukungan kepada Andrew Chan dan Myuran Sukumaran. Permohonan grasi kedua narapidana ini ditolak oleh Presiden Joko Widodo, sehingga keduanya tinggal menunggu waktu untuk menjalani eksekusi mati.

Kedua narapidana ini merupakan anggota geng penyelundupan narkoba yang dijuluki “Bali Nine”. Mereka ditangkap di Bali pada tahun 2005 dan dijatuhi hukuman mati pada tahun berikutnya dengan tuduhan penyelundupan delapan kilogram heroin ke pulau Bali.

Edith Visvanathan, nenek dari Sukumaran, mengatakan kepada kerumunan warga Australia bahwa dia tidak meminta cucunya dipulangkan ke Australia. “Saya hanya minta dia (Presiden Joko Widodo) untuk memberinya hidup dan biarkan dia memperbaiki hidupnya,” katanya sambil terisak seperti dilansir The Guardian, Jumat (30/1/2015)


“Jangan bunuh dia, jangan bunuh dia… saya mohon, Presiden, ampunilah dia,” tambahnya.

Artis Australia, Ben Quilty yang mengorganisir acar konser tersebut mengatakan, “Andrew dan Myuran melakukan sesuatu yang benar-benar buruk, tetapi mereka sudah menjadi anak yang baik sekarang.”

Komisaris Hak Asasi Manusia Australia, Tim Wilson, yang berada di antara penonton, mengatakan “tidak ada alasan bagi pemerintah untuk membunuh orang-orang”.

“Hukuman mati benar-benar bertentangan dengan prinsip-prinsip hak asasi manusia dan jika dilihat dari hukumannya, ini tidak sesuai dengan kejahatan yang mereka lakukan,” katanya kepada AFP.

Perdana Menteri Australia Tony Abbott pekan lalu mendesak pemerintah Indonesia untuk menunjukkan belas kasihan kepada kedua orang tersebut, sementara pengacara mereka berencana banding yang terakhir untuk memperjuangkan hidup mereka.

Tapi Kejaksaan Agung Indonesia telah mengatakan banding tidak bisa diajukan setelah tawaran grasi ditolak.

Sebelumnya Indonesia berhasil menangkap lima orang asing dan seorang wanita lokal karena kasus narkoba di pertengahan Januari, hal itu mengganggu hubungan diplomasi Indonesia dengan Brazil.

Kejaksaan Agung Indonesia memberikan pernyataan bahwa pihaknya siap mengeksekusi tujuh narapidana narkoba, termasuk Chan dan Sukumaran, bersama dengan empat orang Indonesia. (AFP/The Guardian/cr2/one)