100 Hari, Jokowi Lebih Banyak Obral Jabatan ‘Balas Jasa’

Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo
Presiden Joko Widodo

POJOKSATU – Penilaian masyarakat terhadap kinerja pemerintahan Jokowi-JK selama selama 100 cenderung negatif. Akibatnya, popularitas Jokowi terus merosot. Jokowi dianggap lebih banyak mengedepanlan kepentingan partai pengusungnya ketimbangan kepentingan rakyat.

Selain itu, Jokowi juga dinilai sering ingkar janji. Mantan Gubernur DKI Jakarta itu juga dinilai lebih banyak membagi jabatan strategis kepada pendukungnya. Pemberian jabatan tersebut merupakan bentuk balas jasa Jokowi kepada pendudkungnya yang berjuang keras memenangkan pasangan Jokowi-JK pada pilpres 2014 lalu.

Data yang dihimpun Bimata Politica Indonesia (BPI), dalam 100 hari, Jokowi sudah membagi sedikitnya 50 jabatan. Data tersebut dapat dilihat di balasjasa.wordpress.com.

“Dengan kata lain Jokowi membagikan satu kursi jabatan publik setiap dua hari kepada orang-orang yang memiliki piutang politik kepada Jokowi. Itulah mengapa himpunan data yang telah dikumpulkan saya beri judul ‘balas jasa’,” ujar Direktur Eksekutif BPI, Panji Nugraha dalam keterangannya, Jumat (30/1).


Panji menilai, politik balas jasa inilah yang menghancurkan citra positif Jokowi sendiri selama  menjabat menjadi presiden. Pasalnya, sampai hari ini Jokowi tidak bisa lepas dari imej partai pengusung yang mengontrol langkahnya sebagai pejabat publik. Jokowi tidak terlihat memiliki kemampuan untuk menentukan langkahnya sendiri.

Seorang presiden, masih menurut Panji, seharusnya berjuang sampai titik terakhir untuk menempatkan orang-orang yang layak dan memiliki kecintaan terhadap rakyat Indonesia.

“Bukan seperti sekarang di mana banyak posisi diisi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan tertentu, apalagi hanyalah delegasi dari partai pengusung. Jika Jokowi terus konsentrasi balas jasa, cepat atau lambat ia sendiri yang akan hancur,” kritik Panji. (rmol/ps/one)