Penjual Keset Kaki Sebarkan Uang Palsu di Malang

Ilustrasi
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU – Kasus penyebaran uang palsu di Jawa Timur terus didalami aparat kepolisian. SEtelah ditemukan Minggu pekan lalu, Kepolisian Resor Malang terus mendalami kasus temuan uang palsu pecahan Rp 100 ribu senilai Rp 15 juta, yang dibelanjakan Ishak Aji Pangestu (58) dan Lasnawi (40). Polisi menduga, penyebaran uang palsu tersebut ada kaitannya dengan temuan di Jember dan Jombang, senilai lebih dari Rp 12,2 miliar.

Setelah diperiksa, Ishak mengaku memiliki kurang lebih Rp 15 juta uang palsu. Ia membelinya dari ED, warga Gempol, seharga Rp 5 juta. Tak semua uang tersebut ia kantongi, hanya Rp 13,4 juta saja. Sisanya diberikan kepada Laswani.

Usai membelanjakan uang tersebut, kedua tersangka diamankan polisi di kompleks Pondok Pesantren Bihaaru Bahri Asali Fadlaailir Rahmah atau atau yang biasa dikenal Masjid Tiban di Desa Sananrejo, Turen, Kabupaten Malang. “Kami mendapatkan laporan dari masyarakat, bahwa ada uang pecahan Rp 100 ribu palu yang beredar,” kata Kepala Kepolisian Sektor Turen, Komisaris Kamsidi, Kamis, 29 Januari 2015.

Baru Rp 200 ribu uang palsu tersebut digunakan Ishak untuk membeli makanan dan minuman. Sisanya, akan digunakan dalam perjalanan dari Sukorejo menuju Sumbermanjing Wetan. Bukan hanya itu, bahkan ia telah berencana, akan menggunakan uang palsu tersebut sebagai uang buwuh (hajatan).


“Saya kepepet utang Rp 350 juta setelah Koperasi Gatara (di Tumpakrenteng) bangkrut dan bermasalah. Makanya saya nekat beli uang palsu,” kata Ishak. SEmentara rekannya, Lasnawi mengaku akan diberi kompensasi sebagai uang jasa sebesar Rp 100 ribu, jika berhasil mengedarkan.

Karena ulahnya, kedua pelaku dijerat Pasal 26 ayat 3 Undang-Undang Nomor 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang, dengan ancaman pidana penjara maksimal 15 tahun dan pidana denda maksimal Rp 50 miliar. HIngga kini, Polisi terus memburu ED, penjual uang palsu ke Ishak dan Lasnawi. (ril)