Kompolnas Siapkan Calon Kapolri Baru

Adrianus Meliala
Adrianus Meliala
Adrianus Meliala

POJOKSATU – Nasib Komnjen Budi Gunawan sebagai calon tunggal kapolri semakin tidak jelas. Meski sudah mendapat persetujuan DPR dan didukung PDI Perjuangan serta 3 Wantimpres, kepastian pelantikan jenderal bintang tiga itu masih tanda tanya.

Budi Gunawan mendapat penolakan luas dari masyarakat akibat statusnya sebagai tersangka rekening gendut. Bahkan, Tim 9 yang dibentuk Presiden Jokowi juga kompak menolak dan merekomendasikan pelantikan Budi Gunawan dibatalkan.

Menyikapi hal tersebut, Komisi Kepolisian Nasional (Kompolnas) menyiapkan sejumlah nama jika Budi Gunawan batal dilantik.

Anggota Kompolnas Adrianus Meliala mengatakan, nama-nama tersebut belum diajukan ke Presiden Jokowi. Namun, Adrianus tak bersedia membeberkan siapa saja yang akan diusulkan menggantikan Budi Gunawan. “Ya tidak mungkin brigadir disuruh (jadi Kapolri),” kata Adrianus usai melakukan pertemuan dengan Jokowi di Istana, Kamis (29/1/2015).


Menurut dia, Kompolnas telah memberikan saran dan pertimbangan kepada Presiden terkait polemik pengajuan Komjen Budi sebagai calon Kapolri. Pertimbangan diberikan lengkap dengan untung dan ruginya. “Kalau memilih opsi ini untung ruginya ini, jadi tidak sampai pada kesimpulan,” ujar pria yang juga pakar kriminolog itu.

Kompolnas tidak memberikan rekomendasi seperti Tim Independen. Alasannya komisi yang ketuanya dijabat oleh Menteri Politik Hukum dan Keamanan itu tidak mau menjadi partisan. “Kami tidak mau partisan, kami juga tak mau disebut membela KPK atau membela Polri,” tambahnya.

Sebelumnya, Tim 9 mengusulkan kepada Jokowi agar Budi Gunawan tidak dilantik. Tim Independen yang dipimpin Buya Syafii Maarif ini juga mengajukan 9 nama pengganti calon Kapolri.

“Ada beberapa nama tapi kita enggak mau (kasih tahu) di sini,” ujar Ketua Tim 9, Buya Syafii Maarif.

Sementara itu, Anggota Tim Independen lainnya, Oegroseno mengatakan ada 9 nama yang diusulkan menjadi calon Kapolri.
“Ada 9 kan, kalau bagus-bagus semua, sembilan-sembilannya jadi kapolri kan bagus,” ujar Oegroseno.

Saat ditanya apakah yang dicalonkan jenderal bintang tiga semua, Oegro mengatakan semua bisa terjadi. “Semuanya bisa terjadi ya, saat zaman Pak Timur dulu, Pak BHD, kita semua bintang dua disuruh ikut assessment, psikotes juga, bagus juga sih,” ujarnya. (one)