Tewasnya Pemred Fokus Lampung Diduga Akibat Pemberitaan Kasus Korupsi

ILUSTRASI PENEMBAKAN
Ilustrasi.
Ilustrasi
Ilustrasi

POJOKSATU – Ketua Komisi Informasi Publik (KIP) Lampung, Juniardi, menilai kasus penembakan Pemred Tabloid Fokus Lampung, Beni Faisal (42), erat kaitannya dengan gencarnya pemberitaan terkait korupsi di Lampung oleh medianya. Sulit kata dia untuk memisahkan kasus kematian Beni dengan profesinya sebagai jurnalis. ’’Oleh karena itu, kasus ini harus diusut tuntas oleh kepolisian,” pintanya.

Semasa hidupnya, Beni dikenal sebagai wartawan yang idealis dan kerap menyuarakan kebenaran. ’’Kasus kekerasan kerap menimpa jurnalis dan sebagian besar tidak sampai tuntas, siapa pelakunya,” ingatnya. Juniardi yang juga Dewan Kehormatan PWI Lampung menilai, pembunuhan terhadap Beni sangat sadis dan telah direncanakan. Beni yang tewas ditembak orang tak dikenal di rumahnya, Bandarlampung, Minggu (25/1) dikenang sebagai sosok yang ulet dan berkemauan keras.

Rekan korban, Fajrun Najah Ahmad yang juga Pemred tabloid mingguan Fokus, mengatakan, Beni adalah sosok yang baik dan punya loyalitas tinggi.

’’Saya mengenal Beni sejak 2007. Ketika di tabloid Fokus, Beni di pemasaran. Namun karena kemauannya belajar jurnalistik, saya ajarkan dan ia pun menjadi wartawan sampai akhir hayatnya,” kata Fajrun seperti dilansir Radar Lampung, Selasa kemarin.


Fajrun menceritakan, pada tahun 2012, Beni berkeinginan membuka tabloid baru. Dan, Fajar –sapaan akrab Fajrun– mengizinkan. Namanya pun mirip, dengan tambahan kata ’’Lampung” di belakangnya. Ia menduga kematian Beni ada hubungannya dengan pemberitaan tabloid Fokus Lampung yang belakangan gencar menginformasikan kasus korupsi di Lampung.

Kejadian penembakan tersebut menuai banyak kecaman, terutama dari kalangan pengguna internet (netizen) di dalam negeri. Di akut twitternya @nurhidayatsardi, Nur Hidayat menulis; “Pita hitam. Kekerasan ke jurnalis kok gak reda2!,”. Komentar yang sama juga dituliskan cuti Narliswandi Piliang, melalui akunnya @IwanPilang7. “Penembakan thdp Pemred di Lampung, dlm kondisi elemen jurnalisme jg msh blm dijalankan scr benar, tetap tak bisa dibenarkan. Layak dikutuk,”.

Sementara itu, Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Bandar Lampung dan Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung terus mendesak aparat kepolisian mengusut tuntas kasus penembakan tersebut.
Kepala Divisi Hak Sipil Dan Politik LBH Bandar Lampung Ajie Surya Prawira, mengaku pihaknya terus mendesak aparat kepolisian untuk bertindak cepat menyelidiki motif dan segera menangkap pelaku penembakan Benny.
Ia juga meminta agar kepolisian melindung keluarga korban dari segala teror yang mungkin terjadi. Jika kasus tersebut memang telah dirancang sebelumnya, pasti akan ada dampak berikutnya pada pihak keluarga.

Hal senada juga disampaikan Ketua AJI Bandar Lampung Yoso Muliawan. Ia berharap pihak kepolisian mengusut tuntas kasus penembakan Benny. Masyarakat, kata Yoso, menunggu hasil pengusutan kepolisian, karena kasus pencurian motor sudah makin meresahkan masyarakat. “AJI meminta kepolisian benar-benar bekerja maksimal dan berharap masyarakat turut membantu jika memiliki informasi. Termasuk jika ada informasi apakah peristiwa ini berkaitan dengan kerja jurnalistik almarhum maupun produk jurnalistik Fokus Lampung,” kata Yoso di kantor AJI Bandar Lampung, seperti dilansir Radar Lampung.

Seperti diketahui, Benny ditembak orang tak dikenal di halaman rumah Korban Jalan Pulau raya III No.46 perum Way Kandis Tanjung Senang, Bandar Lampung, Minggu (25/1).

Korban meninggal dalam perjalanan ke rumah sakit.
Beni ditembak tiga orang tak dikenal sekitar pukul 20.15 WIB, Minggu (26/1) malam. Peluru mengenai ketiak kiri bagian bawah hingga menembus punggung kanan. Akibatnya, bapak dua anak itu tewas di tempat.
Peristiwa di halaman rumah korban di Jalan Pulau Raya III No. 46, Perumahan Waykandis, Tanjungseneng, itu berlangsung cepat. Tiga tersangka melarikan diri begitu korban roboh bersimbah darah. Mereka tambah panik mendengar jerit anak perempuan korban Echa (6).

Korban melihat gerak-gerik tiga orang mencurigakan di depan rumahnya lewat CCTV (closed circuit television). Ia pun bergegas keluar sambil membawa tombak panjang dari dalam rumah. Mengetahui ada orang yang memergokinya, salah seorang tersangka menghadang korban dan langsung melepas tembakan. Peluru diperkirakan menembus hingga diperkirakan melukai jantung jurnalis itu. Seketika, Beni roboh dan mengembuskan nafas terakhir.

Saat hari kejadian, isteri korban, Novita sedang tidak berada di rumah. Novita menerangkan, sebelum kejadian itu, ia sempat menawari Beni ikut pengajian di rumah tetangga. ’’Tetapi katanya, dia tak berangkat. Karenanya, saya yang ikut pengajian,” tuturnya.

Sebelum berangkat Yasinan, ia berpesan kepada Beni untuk menjaga kedua buah hati mereka, yakni Rosalia dan Gatan Bayu Kurniawan (1,5).

Setengah jam kemudian, ada salah seorang warga yang memberitahunya bahwa Beni terkena musibah. Katanya, Beni ditembak orang tidak kenal. Kejadian tersebut berlangsung begitu cepat. Pariaman (38), tetangga kiri rumah almarhum, mengaku tak sempat melihat wajah pelaku. Dia sedang menonton TV di dalam rumah ketika mendengar tembakan. ’’Pikir saya suara petasan. Namun karena penasaran, saya lihat dari kaca ternyata Pak Beni sudah terkapar,” jelasnya. (ril/sp/jpnn)