Lupa Hapus Video Mesum di Laptop, Guru Ketahuan Setubuhi Muridnya

Ilustrasi Seks
Ilustrasi

Ilustrasi Seks

POJOKSATU-Pepatah ‘guru kencing berdiri, murid kencing berlari’ yang bisa juga diartikan bahwa sebagai seorang guru, sudah semestinya memberikan suri tauladan yang baik kepada murid-muridnya, sepertinya tidak berlaku bagi AY. Pasalnya, tindakan guru honorer bidang mata pelajaran matematika SMPN 3 Sindangbarang itu sangat memalukan dan tidak patut untuk ditiru.

Berdasarkan keterangan warga Sindangbarang yang masih berkerabat jauh dengan korban yang juga mewanti-wanti agar namanya tidak dikorankan itu mengatakan, AY (35) sebelumnya mengajar di sebuah Madrasah Aliyah di Sindangbarang. Sekitar Juli 2014 lalu, sekolah memecat yang bersangkutan tanpa ia ketahui sebabnya.

“Tapi kemungkinan, kata kabar yang beredar, karena menjalin asmara dengan salah satu muridnya,” kata dia.


Setelah itu, AY pun diketahui mengajar di SMPN 3 Sindangbarang sebagai guru bidang mata pelajaran matematika. Namun, meski sudah tidak lagi bisa setiap hari bertemu langsung dengan muridnya yang berinisial W (16) itu, AY tetap menjalin hubungan asmara terlarang dengan muridnya secara diam-diam.

Permasalah kemudian muncul setelah, laptop AY dijual kepada salah satu rekan pengajar lainnya di SMPN 3 Sindangbarang. Rupanya, AY lupa menghapus seluruh berkas-berkas pribadi miliknya di dalam laptop itu.

Dalam salah satu folder penyimpanan berkas-berkas pribadi itu didapati sebuah video yang ternyata adalah video rekaman hubungan badan layaknya suami-istri yang dilakukan AY dengan W di dalam sebuah kamar.

Kemudian, hal itu pun dilaporkan kepada kepala sekolah tempat ia mengajar selama ini dan berujung pada pemecatan AY secara tidak hormat dengan membuat surat pernyataan bermaterai di saksikan staf pengajar lainnya.

“Itu ketahuan sekitar minggu-minggu kemarin, kok. Makanya dia langsung dipecat,” terang dia.

Tidak berhenti sampai di situ, laporan kemudian diteruskan ke sekolah tempat W menuntut ilmu yang juga langsung mendapatkan tindakan tegas. Atas hal itu, W yang masih duduk di bangku klas 2 itu pun akhirnya harus rela dikeluarkan oleh pihak sekolah.

Selain mengeluarkan W dari sekolah, pihak keluarga pun turut dipanggil sekolah atas kejadian itu. Kakak korban yang mewakili keluarga W pun sangat terpukul dan sampai menangis histeris ketika diperlihatkan video persetubuhan AY dan W sebagai alasan korban dikeluarkan dari sekolah.

“Keluarga korban sangat shock dan terpukul atas kejadian ini dan tidak terima dengan perbuatan pelaku,” lanjut dia.

Kakak korban pun kemudian meminta AY untuk datang ke sekolah dan menjelaskan perihal perbuatannya tersebut. AY pun berjanji mau menemui kakak korban di sekolah. Namun, setelah ditunggu hingga lewat waktu, AY tidak muncul juga.

Tapi, tanpa dinyana, AY pun lantas mendatangi rumah korban yang anak yatim dan selama ini tinggal bersama neneknya karena ditinggal ibunya bekerja sebagai TKW di luar negeri.

“AY kemudian datang sendiri ke rumah korban menemui kakaknya,” tutur dia.

Tapi, kedatangan AY ke rumah korban itu bukan serta-merta menjadi penyelesaian. Pasalnya, AY sendiri keukeuh dan menyangkal telah menyetubuhi korban selama ini. Akibatnya, kakak korban pun naik pitam dan sempat memukuli AY.

“Pada saat itu polisi datang karena memang ada warga yang melaporkan ke Polsek Sindangbarang,” jelasnya.

Kapolres Cianjur, AKPB Dedy Kusuma Bakti melalui Kasat Reskrim AKP Gito pun membenarkan ketika ditanya perihal kasus ini. Dalam pengakuan pelaku, kata Gito, pelaku sudah cukup sering menyetubuhi korban dari periode April 2014 hingga Januari 2015.

“Pelaku sendiri sudah ditangkap Polsek Sindangbarang 22 Januari lalu. Baru hari ini dilimpahkan ke Polres karena kasusnya adalah persetubuhan anak di bawah umur,” kata Gito ditemui di ruang kerjanya.

Hingga saat ini, jelas Gito, pihaknya masih melakukan pemeriksaan lanjutan kepada pelaku. Namun, untuk sementara, pasal yang dikenakan kepada pelaku adalah Pasal 81 Undang-undang Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman kurungan maksimal 15 tahun dan denda minimal Rp60 juta dan maksimal Rp300 juta.

“Karena pelaku ini menyetubuhi anak di bawah umur. Untuk sementara ini, pemeriksaan terhadap pelaku masih terus berjalan,” tukas Gito.

Disinggung tentang adanya video persetubuhan pelaku dengan korban yang disinyalir sudah beredar di masyarakat, pihaknya bakal melakukan penyelidikan lebih lanjut. Kalau memang ada pihak yang sengaja menyebarkan video tersebut, maka yang bersangkutan bisa dikenakan Pasal 27 (1) Undang-undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan dan Transaksi Elektronika dengan ancaman hukuman penjara maksimal enam tahun dan/atau denda paling banyak Rp1 miliar.

“Kami masih selidiki untuk masalah penyebaran video itu apakah memang benar telah ada pihak yang sengaja menyebarkan atau tidak. Sementara, fokus masih pada persetubuhan anak di bawah umur,” pungkas Gito.(ruh)