Ahok Samakan Penjualan Miras Dengan Bisnis ‘Lendir’

Basuki Tjahja Purnama alias Ahok

AhokBukan Ahok namanya jika tak mengundang kontroversi dalam berargumen. Kini, Gubernur Jakarta yang memiliki nama lengkap Basuki Tjahaja Purnama itu punya istilah lain dalam menanggapi kebijakan Menteri Perdagangan Rachmat Gobel yang melarang penjualan minuman beralkohol golongan A atau berkadar alkohol kurang dari 5 persen di minimarket.

Ahok beranalogi, membatasi penjualan bir atau minuman keras (miras) sama halnya dengan membatasi transaksi prostitusi. Peraturan yang terlalu ketat menurutnya justru akan meningkatkan pertumbuhan bisnis esek-esek ilegal di Jakarta. Artinya, penyebaran penyakit AIDS/HIV juga semakin meningkat.

“Begitu Anda batasin, sama kayak saya bilang pelacuran anda batasin‎ di apartemen-apartemen. Lebih parah penyakit HIV juga nambah,” kata Ahok di Balaikota Jakarta, Selasa (27/1).

Agar hal serupa tidak terjadi, Ahok meminta agar Menteri Perdagangan berdiskusi dengan Pemprov DKI terkait pelaksanaan aturan tersebut di ibukota negara.


“Makanya kita mesti duduk diskusi soal (alkohol) di bawah 5 persen boleh dijual nggak, di tempat tertentu boleh nggak,” tuturnya.

Larangan penjualan minuman beralkohol di bawah 5 persen tertuang dalam Peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No 06/M-DAG/PER/1/2015 tentang Pengendalian dan Pengawasan terhadap Pengadaan, Peredaran dan Penjualan Minuman Beralkohol. Di situ disebutkan seluruh minuman yang mengandung alkohol, termasuk bir harus ditarik peredarannya dari minimarket.

Akan tetapi, penjualan itu tetap diperbolehkan bagi supermarket atau hipermarket. Sementara itu, sebelumnya Ahok memperbolehkan penjualan minuman beralkohol dengan aturan di bawah 5 persen mengacu pada Peraturan Daerah (Perda) nomor 8 tahun 2007 tentang Penertiban Umum.

“Kalau memang dia (Rachmat Gobel) ngotot, kita ikut saja. Kita lihat saja sejarah akan membuktikan, nanti akan terjadi penyelundupan bir. Berarti semua pabrik bir harus tutup di Indonesia. Harus ekspor kan, harus ditutup,” imbuhnya.

“Nggak mungkin dong produksi mereka bisa penuhi syarat. Semua ‎yang mengandung alkohol harus tutup, nggak bisa jual. Cuma jual di hotel, berapa duit, pajaknya berapa. Ini yang orang bawah akan mulai seperti itu. Ini sejarah loh, saya cuma belajar dari sejarah,” pungkas Ahok menambahkan. (rmol)