Swasta Pelopori Gerakan 5 Juta Biopori di Bogor

Penemu LRB Kamir R. Brata menjelaskan tata cara pembuatan lubang biopori usai simulasi di halaman parkir Graha Pena Bogor. Fiti Rangga/pojoksatu.id
Penemu LRB Kamir R. Brata menjelaskan tata cara pembuatan lubang biopori usai simulasi di halaman parkir Graha Pena Bogor. Fiti Rangga/pojoksatu.id
Penemu LRB Kamir R. Brata menjelaskan tata cara pembuatan lubang biopori usai simulasi di halaman parkir Graha Pena Bogor. Fiti Rangga/pojoksatu.id

POJOKSATU – Sejumlah pengusaha swasta di Kota dan Kabupaten Bogor mempelopori gerakan lima juta biopori. Pembuatan lubang resapan biopori (LRB) dilakukan sebagai upaya mencegah banjir dan menjaga lingkungan agar tetap lestari.
Selain itu, gerakan ini juga bertujuan untuk menekan volume air ke Jakarta hingga menyebablan banjir di ibukota.

Pembuatan LRB dimulai di halaman Kantor Graha Pena Radar Bogor, Senin (26/1/2015). Sejumlah pengusaha, anggota TNI, dan pecinta lingkungan hadir dalam simulasi pembuatan LRB tersebut.

Penanggung jawab gerakan lima juta biopori, Hazairin Sitepu mengatakan, selama ini Bogor selalu dikaitkan dengan banjir Jakarta. Bogor sering dipersalahkan karena dianggap sebagai penyebab banjir di ibukota. Padahal, anggapan itu tidak selalu benar. Buktinya, Jakarta sering banjir di saat Bogor tidak dilanda hujan.

“Kita membuat gerakan lima juta pembuatan lubang biopori sebagai bentuk kepedulian kita terhadap pelestarian lingkungan, sekaligus menekan volume air ke Jakarta,” tutur Hazairin. Ia menyebutkan, gerakan ini murni dari swasta dan bukan dari pemerintah.


CEO Radar Bogor Grup ini berharap, semua pengusaha swasta di Kota dan Kabupaten Bogor bisa ikut berpartisipasi menyukseskan gerakan tersebut. “Kita berharap semua komponen, termasuk lembaga swasta di Kota dan Kabuapaten Bogor ikut serta dalam gerakan ini,” tutur mantan Ketua Dewan Pengawas TVRI itu.

Menurut dia, gerakan ini muncul dari diskusi beberapa pengusaha swasta. Mereka sepakat untuk memberikan kontribusi di bidang lingkungan.

“Kita memberikan sumbangsih dan pembelajaran kepada semua orang bahwa menjaga lingkungan itu adalah kewajiban kita semua, bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau aktivis lingkungan,” ujar mantan Pemimpin Redaksi Harian Fajar itu.

Dikatakan Hazairin, sebagai tahap awal, pihaknya akan mencetak 500 bor biopori. Gerakan ini akan juga melibatkan TNI, mulai dari Korem sampai babinsa. Kita juga libatkan aparat kepolisian, mulai dari polres hingga babinkamtibmas.

Sementara itu, penemu LRB Kamir R. Brata, mengatakan, teknologi biopori tergolong murah dan effisien. Biopori ini bertujuan untuk menanggulangi banjir dengan cara yang sangat sederhana, yaitu menjaga air curahan hujan agar tetap tersimpan di area kavling rumah atau kantor.

“Air yang masuk ke dalam LRB akan terserap ke dalam tanah sehingga dapat mencegah erosi, longsor, serta meningkatkan cadangan air bersih. Selain itu, teknologi ini juga dapat menyuburkan tanah dan mengubah sampah organik menjadi kompos,” tutur Kamir. (cr2)